Makalah Bilangan Asam Basa

Posted: 12 November 2012 in Uncategorized

Kata pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat,hidayah yang sudah diberikan saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dengan baik dan benar

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang mana semua itu  tejadi karena keterbatasaan pemahaman penulis Seperti kata pepatah “Tiada gading yang Tak Retak”. Kemudian penulis megharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah ini, dan  penulis bisa mengetahui sampai dimana kemampuan penulis.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Jika ada kesalahan tutur kata dalam pembuatan makalah ini mohon dimaklumi karena tidak ada didunia ini yang sempurna selain Allah SWT

Wassallamualaikum Wr.Wb

Medan,09 November 2012

NURHABLI RIDWAN

NIM : 1209008927

 

BAB I

Pendahuluan

                      

  1. A.     Latar belakang

Asam dan basa merupakan dua senyawa kimia yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Asam dan basa cukup penting bagi kita. Secara umum zat -zat yang termasuk asam mempunyai beberapa ciri yaitu rasanya asam, ph < 7 misalnya asam sitrat pada jeruk dan asam cuka. Sedangkan basa pada umumnya mempunyai sifat licin, terasa pahit, ph > 7 misalnya pada sabun.

Air merupakan elektrolit sangat lemah yang terionisasi menjadi ion h+ dan ion h-. Dalam air, asam melepaskan ion h+ sedangkan basa melepaskan ion oh-. Dalam air asam kuat dan basa kuat terionisasi seluruhnya. Sedangkan asam lemah dan basa lemah hanya terionisasi sebagian. Ph larutan menyatakan konsentrasi h+ dalam larutan. Penetralan asam oleh basa menghasilkan air, menurut bronsted lowry asam merupakan donor proton (h+) dan basa merupakan akseptor proton (oh-).

Di laboratorium asam dan basa secara sederhana dapat dikenali dengan menggunakan berbagai indikator, seperti indikator alami dan indikator buatan. Salah satu indikator yang umum dan sering digunakan yaitu kertas lakmus. Kertas lakmus akan berwarna merak ketika dimasukkan ke larutan yang bersifat asam. Dan saat lakmus dicelupkan ke larutan basa warnanya akan berubah menjadi biru.. Beberapa larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit, sehingga didalam air akan terurai menjadi ion-ionnya. Apakah yang menyebabkan suatu larutan bersifat asam, demikian pula apa penyebab suatu larutan bersifat basa.

  1. B.     Tujuan

Adapun tujaun dari pembuatan makalah ini yaitu:

  1. sebagai sumber informasi untuk mahasiswa.
  2. Agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman khusunya bagi mahasiswa mengenai bilangan asam basa.
  1. C.     Rumusanmasalah

a.    Faktor – faktor yang ada di dalam bilangan asam basa?

b.    Apa yang di maksud dengan asam basa?

c.    Rumus – rumus asam basa ?

BAB II

Pembahasan

 

  1. 1.            Pengertian

Pengertian Asam

Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam adalah asam asetat (ditemukan dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan dalam baterai atau aki mobil). Asam umumnya berasa masam; walaupun demikian, mencicipi rasa asam, terutama asam pekat, dapat berbahaya dan tidak dianjurkan.

Berbagai definisi asam

Istilah “asam” merupakan terjemahan dari istilah yang digunakan untuk hal yang sama dalam bahasa-bahasa Eropa seperti acid (bahasa Inggris), zuur (bahasa Belanda), atau Säure (bahasa Jerman) yang secara harfiah berhubungan dengan rasa masam. Dalam kimia, istilah asam memiliki arti yang lebih khusus. Terdapat tiga definisi asam yang umum diterima dalam kimia, yaitu definisi Arrhenius, Bronsted-Lowry dan Lewis.

Arrhenius: Menurut definisi ini, asam adalah suatu zat yang meningkatkan konsentrasi ion hidronium (H3O+) ketika dilarutkan dalam air. Definisi yang pertama kali dikemukakan oleh Svante Arrhenius ini membatasi asam dan basa untuk zat-zat yang dapat larut dalam air. Menurut Svante Arrhenius : asam adalah zat yang dalam air dapat melepaskan ion [H+]. Asam merupakan senyawa yang dapat menghasilkan ion Hidrogen [H+], larutan asam mempunyai rasa asam dan bersifat korosif.

Teori Dasar

Svante August Arrhenius pada tahun 1887 menyatakan bahwa : “ Molekul-molekul elektrolit selalu menghasilkan ion-ion negatif dan positif jika dilarutkan dalam air “

Selanjutnya pada tahun 1900 Svante Arrhenius mengemukakan teori yang dikenal samapi sekarang yaitu Teori Asam Basa Arrhenius. “ asam merupakan suatu senyawa yagn dapat menghasilkan ion Hidrogen [H+] bila dilarutkan dalam air dan Basa merupakan suatu senyawa yang dapat memberikan ion Hidroksida (OH) bila dilarutkan dalam air.

Asam

  1. Asam Nitrat dalam air

HNO3 H+ + NO3

  1. Asam Klorida dalam air

HCl H+ + Cl

Setiap molekul HNO3 dan HCl hanya dapat menghasilkan 1 ion H+ disebut Valensi Asam. Asam semacam ini disebut juga asam monoprotik.

Asam yang setiap molekul cairnya menghasilkan 2 ion H+ disebut asam diprotik.

Asam yang setiap molekul cairnya menghasilkan 3 ion H+ disebut asam triprotik.

Asam diprotik dan asam triprotik dikelompokkan kedalam asam poliprotik.

Brønsted-Lowry: Menurut definisi ini, asam adalah pemberi proton kepada basa. Asam dan basa bersangkutan disebut sebagai pasangan asam-basa konjugat. Brønsted dan Lowry secara terpisah mengemukakan definisi ini, yang mencakup zat-zat yang tak larut dalam air (tidak seperti pada definisi Arrhenius).

Lewis: Menurut definisi ini, asam adalah penerima pasangan elektron dari basa. Definisi yang dikemukakan oleh Gilbert N. Lewis ini dapat mencakup asam yang tak mengandung hidrogen atau proton yang dapat dipindahkan, seperti besi(III) klorida. Definisi Lewis dapat pula dijelaskan dengan teori orbital molekul. Secara umum, suatu asam dapat menerima pasangan elektron pada orbital kosongnya yang paling rendah (LUMO) dari orbital terisi yang tertinggi (HOMO) dari suatu basa. Jadi, HOMO dari basa dan LUMO dari asam bergabung membentuk orbital molekul ikatan.

Walaupun bukan merupakan teori yang paling luas cakupannya, definisi Brønsted-Lowry merupakan definisi yang paling umum digunakan. Dalam definisi ini, keasaman suatu senyawa ditentukan oleh kestabilan ion hidronium dan basa konjugat terlarutnya ketika senyawa tersebut telah memberi proton ke dalam larutan tempat asam itu berada. Stabilitas basa konjugat yang lebih tinggi menunjukkan keasaman senyawa bersangkutan yang lebih tinggi.

Sistem asam/basa; tak ada perubahan bilangan oksidasi dalam reaksi asam-basa.

Sifat-sifat

Secara umum, asam memiliki sifat sebagai berikut:

1. Rasa: masam ketika dilarutkan dalam air.

2. Sentuhan: asam terasa menyengat bila disentuh, terutama bila asamnya asam kuat.

3. Kereaktifan: asam bereaksi hebat dengan kebanyakan logam, yaitu korosif terhadap logam.

4. Hantaran listrik: asam, walaupun tidak selalu ionik, merupakan elektrolit.

Sifat kimia

Dalam air, reaksi kesetimbangan berikut terjadi antara suatu asam (HA) dan air, yang berperan sebagai basa,

HA + H2O ↔ A + H3O+

Tetapan asam adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi HA dengan air:

Asam kuat mempunyai nilai Ka yang besar (yaitu, kesetimbangan reaksi berada jauh di kanan, terdapat banyak H3O+; hampir seluruh asam terurai). Misalnya, nilai Ka untuk asam klorida (HCl) adalah 107.

Asam lemah mempunyai nilai Ka yang kecil (yaitu, sejumlah cukup banyak HA dan A terdapat bersama-sama dalam larutan; sejumlah kecil H3O+ ada dalam larutan; asam hanya terurai sebagian). Misalnya, nilai Ka untuk asam asetat adalah 1,8 × 10-5.

Asam kuat mencakup asam halida – HCl, HBr, dan HI. (Tetapi, asam fluorida, HF, relatif lemah.) Asam-asam okso, yang umumnya mengandung atom pusat ber-bilangan oksidasi tinggi yang dikelilingi oksigen, juga cukup kuat; mencakup HNO3, H2SO4, dan HClO4. Kebanyakan asam organik merupakan asam lemah.

Larutan asam lemah dan garam dari basa konjugatnya membentuk larutan penyangga.

Contoh Asam

RUMUS ASAM NAMAASAM REAKSIIONISASI Keterangan ValensiAsam
HF Asam Flurida HF H+ + F Monoprotik
HCl Asam Clorida HCl H+ + Cl Monoprotik 1
HBr Asam Bromida HBr H+ + Br Monoprotik 1
HI Asam Iodida HI H+ + I Monoprotik 1
HCN Asam Sianida HCN H+ + CN Monoprotik 1
H2S Asam Sulfida H2S H+ + S2+ Diprotik 2
HNO3 Asam Nitrat HNO3 H+ + NO3 Monoprotik 1
H2SO4 Asam Sulfat H2SO4 H+ + SO42+ Diprotik 2
H3PO3 Asam Pospit H2PO3 H+ + PO33- Triprotik 3
H3PO4 Asam Pospat H2PO4 H+ + PO43- Triprotik 3
H2CO3 Asam Karbonat H2CO2 H+ + CO32- Diprotik 2
H2C2O4 Asam Oksalat H2C2O4 H+ + C2O4 2

 

Sejarah

Sekitar tahun 1800, banyak kimiawan Prancis, termasuk Antoine Lavoisier, secara keliru berkeyakinan bahwa semua asam mengandung oksigen. Lavoisier mendefinisikan asam sebagai zat mengandung oksigen karena pengetahuannya akan asam kuat hanya terbatas pada asam-asam okso dan karena ia tidak mengetahui komposisi sesungguhnya dari asam-asam halida, HCl, HBr, dan HI. Lavoisier-lah yang memberi nama oksigen dari kata bahasa Yunani yang berarti “pembentuk asam”. Setelah unsur klorin, bromin, dan iodin teridentifikasi dan ketiadaan oksigen dalam asam-asam halida ditemukan oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1810, definisi oleh Lavoisier tersebut harus ditinggalkan.

Kimiawan Inggris pada waktu itu, termasuk Humphry Davy, berkeyakinan bahwa semua asam mengandung hidrogen. Kimiawan Swedia Svante Arrhenius lalu menggunakan landasan ini untuk mengembangkan definisinya tentang asam. Ia mengemukakan teorinya pada tahun 1884.

Pada tahun 1923, Johannes Nicolaus Bronsted dari Denmark dan Martin Lowry dari Inggris masing-masing mengemukakan definisi protonik asam-basa yang kemudian dikenal dengan nama kedua ilmuwan ini. Definisi yang lebih umum diajukan oleh Lewis pada tahun yang sama, menjelaskan reaksi asam-basa sebagai proses transfer pasangan elektron.

Bahan pangan yang tersedia di alam tersusun atas unsur kimia seperti karbon (C), hydrogen (H), nitrogen (N), oksigen (O), sulfur (S), phosphor (P), dan lain-lain.  Setiap bahan pangan mempunyai susunan kimia yang berbeda-beda dan mengandung zat gizi yang bervariasi yang banyak jumlahnya. Lemak merupakan suatu kelompok senyawa yang heterogen, tetapi mempunyai kesamaan sifat kelarutannya. Lemak umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik seperti eter dan petroleum eter. Berat jenisnya lebih rendah daripada air. Yang tergolong sebagai lemak adalah lemak netral atau trigliserida dan lilin. Sterol, fosfolipid, ester asam lemak dan yang termasuk turunan lemak. Trigliserida adalah bentuk utama lemak, baik di dalam tubuh manusia maupun di dalam bahan pangan. Secara kimia, trigliserida terdiri atas 3 asam lemak yang melekat pada gliserol dan ikatan ester. Lemak (padat) pada umumnya mengandung mengandung asam lemak jenuh (lemak yang berikatan rangkap tinggi, sedangkan minyak (cair) tingkat ketidakjenuhannya tinggi berarti banyak mengandung asam lemak berikatan rangkap sehingga cenderung mudah teroksidasi, kecuali minyak kelapa kandungan asam lemak tidak jenuhnya rendah. Semakin panjang rantai atom karbon asam, akan semakin tinggi ketidakjenuhannya dan sifat fisik asam lemak ini cenderung semakin encer (Widyaningsih, 2004).

Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1 N yang digunakan untuk mrnrtralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak. Derajat asam adalah banyaknya milliliter KOH 0,1 N yang diperlukan untuk menetralkan 100 gram minyak atau lemak (Ketaren, 2005). Sedangkan menurut Sumardi dan Hardoko (1992) bilangan asam lemak bebas adalah banyaknya basa dalam ml ekuivalen yang diperlukan untuk menetralkan 100 gram contoh yang ditentukan.

Angka FFA adalah indikasi dari jumlah ketengikan hidrolitik kandungan/kadar FFA yang ditentukan dengan titrasi alkali standar. Penentuan angka FFA harus ditetapkan untuk tiap spesies ikan, dimana batas maksimumnya akan berubah-ubah tergantung dalam tiap ikatannya.

Karakteristik

Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemak digolongkan kedalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Berdasarkan tingkat ketidak jenuhannya yang dinyatakan dengan bilangan iod (iodine value), maka minyak kelapa dapat dimasukkan ke dalam golongan non drying oils karena bilangan iod minyak tersebut berkisar antara 7,5 hingga 10,5 (Ketaren, 2008).

Minyak kelapa mengandung 84% trigliserida, sterol yang terdapat dalam minyak nabati disebut phitosterol dan mempunyai dua isomer yaitu beta sitosterol (C29H50O) dan stigmasterol (C29H48O). Sterol bersifat sebagai stabilizer dalam minyak. Tokoferol mempunyai 3 isomer yaitu α-tokoferol (titik cair 158-160 0C); α, β – tokoferol (titik cair 138 – 140 0C); dan β – tokoferol. (Muchtadi dan Sugiyono, 1992).

Kandungan jenis minyak kelapa tersusun atas unsure-unsur C, H, dan O. Minyak sawit terdiri atas fraksi padat dan fraksi cair dengan perbandingan yang seimbang. Penyusun fraksi padat terdiri atas asam lemak jenuh, antara lain asam miristat (1%), asam palmitat (45%) dan asam stearat. Sedangkan fraksi cair tersusun atas asam lemak tak jenuh yang terdiri dari asam oleat (39%), dan asam linoleat 11% (Silviana, 2008).

Proses penyaringan minyak kelapa sawit sebanyak 2 kali (pengambilan lapisan minyak jenuh) menyebabkan kandungan asam tak jenuh menjadi lebih tinggi. Tingginya kandungan asam lemak tak jenuh menyebabkan minyak menjadi mudah rusak oleh proses penggorengan karena selama proses menggoreng, minyak akan dipanaskan secara terus menerus pada suhu tinggi serta terjadinya kontak dengan oksigen dari udara luar yang memudahkan terjadinya oksidasi pada minyak  (Sartika, 2009).

Prinsip Metode Analisa

Menurut Herlina (2002) angka asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu lemak atau minyak. Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram NaOH yang dibutuhkan asam lemakbebas yang terdapat dalam satu gram lemak atau minyak.

Asam

Menurut Sudarmadji, et. al., (2007), cara penentuan minyak atau lemak sebanyak 10 -20 gram ditambahkan 50 ml alkohol netral 95% kemudian dipanaskan 10 menit dalam penangas air sambil diaduk dan ditutup pendingin balik. Alkohol berfungsi untuk melarutkan asam lemak. Setelah didinginkan kemudian dititrasi dengan KOH 0,1 N menggunakan indikator phenolphathalein sampai tepat warna merah jambu.

Angka asam

Menurut Widjanarko (1996) lemak atau minyak dilarutkan dalam alcohol 95% dan dipanaskan selama 10 menit diatas penangas air sambil diaduk dan ditutup dengan pendingin balik, setelah dingin asam lemak bebas dititrasi dengan KOH dengan indikator pp sampai merah jambu.

Angka asam

 Lemak dan Minyak

            Lemak merupakan pangan yang berenergi tinggi, setiap gramnya member lebih banyak energi daripada karbohidrat atau protein. Lemak juga merupakan makanan cadangan di dalam tubuh, karena kelebihan karbohidrat diubah menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan adipose. Lemak terutama terdiri atas trigliserida tetapi juga mengandung kolestrol, yang diduga mempunyai hubungan dengan penyakit jantung dan asam-asam lemak esensial yaitu linoleat dan asam arakhidonat (Buckle, et al, 2007).

Lemak atau minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu, lemak dan minyak juga merupakan sumber energy yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein (Winarno, 2002). Sedangkan menurut Sediaoetama (2008), lemak adalah sekelompok ikatan yang terdiri atas unsur-unsur Carbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut tertentu (zat pelarut lemak) seperti petroleum eter, benzene, lemak, yang mempunyai titik lebur tinggi bersifat padat pada suhu kamar, sedangkan yang mempunyai titik lebur rendah bersifat cair pada suhu kamar.

Lemak dan minyak terdiri dari trigliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Angka nabati terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman dan sayur-sayuran. Dalam jaringan hewan, lemak terdapat diseluruh badan, tetapi jumlah terbanyak dalam jaringan adipose dan tulang sumsum trigeliserida dapat berwujud padat atau cair. Hal ini tergantung dari komposisi asam lemak yang menyusunnya. Sebagian besar minyak nabati berbentuk cair karena mengandung sujumlah asam lemak tidak jenuh, yaitu oleat, linoleat atau asam linoleat dengan titik cair yang rendah. Lemak hewani pada umunya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak mengandung asam lemak jenuh misalnya asam polimitat dan stearat yang mempunyai titik cair lebih tinggi (Ketaren, 2008).

Dalam proses pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam-asam lemak (umumnya ketiga asam lemak berbeda-beda) yang membentuk satu molekul trigliserida dan tiga molekul air.

O

H2C – OH       HOOCR1           H2C – O – C – R1

                                                                                O

HC – OH      + HOOCR2        HC – O –C –R2           + 3 H2O

O

H2C – OH       HOOCR3        H2C – O – C – R3

Gliserol                        asam lemak    trigliserida              air

Kalau R1 = R2 = R3 maka trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana (simple triglyceride) sebaliknya berbeda disebut trigliserida campuran (mixed trigliseride)

 Hubungan Asam Lemak Bebas dengan Kualitas

Menurut Ketaren (2008) lema dengan kadar asam lemak bebas lebih besar dari 1%. Jika dicicipi akan terasa membentuk film pada permukaan lidah dan tidak berbau tengik. Namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah asam lemak bebas. Asam lemak bebas, walaupun berada dalam jumlah kecil mengakibatkan rasa tidak lezat. Hal ini berlaku pada lemak yang mengandung asam lemak tidak dapat menguap dengan jumlah atom 5 lebih besar dari 14 (5 > 14).

Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan misalnya penjernihan (refining), penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching), dan sebagainya. Penentuan tingkat kemurnian minyak ini sangat berhubungan erat dengan kekuatan daya simpanya, sifat gorengannya, baunya maupun rasanya. Tolok ukur kualitas ini termasuk angka asam lemak bebas (Free Fatty Acids atau FFA), bilangan peroksida, tingkat ketegikan dan kadar air

 

Prinsip Kerja Bahan

Indikator PP

Indikator PP adalah indikator perubahan warna dengan ditandai tepat hilangnya warna merah. Cara pembuatan indikator PP adalah 1 gram Penophatalein dalam 100 ml alkohol

 KOH

KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga terbentuk. Cara pembuatan KOH adalah KOH sebanyak 6,5 gram dilarutkan dalam aquadest hingga 1 L

Pengertian Basa

Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air.

Menurut Svante Arrhenius : Basa merupakan suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion Hidroksida [OH], bila dilarutkan dalam air mempunyai rasa pahit dan bersifat kaustik.

Basa adalah lawan (dual) dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa kuat. jadi kita menggunakan nama kostik soda untuk natrium hidroksida (NaOH) dan kostik postas untuk kalium hidroksida (KOH). Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi larutan basa tersebut.

Reaksi: Kalsium Hidroksida + Asam Sulfat ————> Kalsium Sulfat + Air

Ca(OH)2 (aq) + H2SO4 ————> CaSO4(aq) + 2H2O

Teori Dasar

Svante August Arrhenius pada tahun 1887 menyatakan bahwa : “ Molekul-molekul elektrolit selalu menghasilkan ion-ion negatif dan positif jika dilarutkan dalam air “

Selanjutnya pada tahun 1900 Svante Arrhenius mengemukakan teori yang dikenal samapi sekarang yaitu Teori Asam Basa Arrhenius. “Basa merupakan suatu senyawa yang dapat memberikan ion Hidroksida (OH) bila dilarutkan dalam air.

Pada kimia modern basa dapat menghasilkan ion Hidroksida (OH) dengan 2 cara :

  1. Senyawa Basa dalam pelarut air menghasilkan ion Hidroksida (OH) secara langsung.

NaOH Na+ + OH

  1. Senyawa Basa yang bereaksi dengan air menghasilkan ion Hidroksida (OH).

NH3 + H2O NH4+ + OH

Untuk menunjukan sifat basa, larutan NH3 sering ditulis NH4OH.

Jumlah ion (OH) yang dapat menghasilkan oleh suatu molekul basa disebut Valensi Biasa.

Contoh Basa

RUMUS BASA NAMABASA Reaksi Ionisasi ValensiAsam
NH3 Amoniak
NH3OH Amonium Hidroksida
NHOH Natrium Hidroksida NHOH Na+ + OH 1
KOH Kalium Hidroksida KOH K+ + OH 1
Mg (OH)2 Magnesium Hidroksida Mg (OH)2 Mg2+ + 2OH 2
Ca (OH)2 Kalsium Hidroksida Ca (OH)2 Ca2+ + 2OH 2
Sr (OH)2 Stronsium Hidroksida Sr (OH)2 Sr2+ + 2OH 2
Ba (OH)2 Barium Hidroksida Ba (OH)2 Ba2+ + 2OH 2
Al (OH)2 AlumuniumHidroksida Al (OH)2 Al 2+ + 3OH 3
Fe (OH)2 Besi (II) Hidroksida Fe (OH)2 Fe 2+ + 2OH 2
Fe (OH)3 Besi (III) Hidroksida Fe (OH)3 Fe2+ + 3OH 3

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan

berdasarkan teori-teori yang telah tersebutkan di dalam makalah ini dan apabila pembaca telah membaca makalah ini maka dapat mengetahui bahwa :
1.penambahan sedikit asam atau sedikit basa atau pengenceran ke dalam larutan penyangga tidak mengubah ph larutan itu.

2.hasil pengamatan dan perbedaan perubahan ph larutan penyangga dan bukan penyangga akibat penambahan sedikit asam atau basa atau pengenceran.
3.beberapa jenis bilangan asam basa.

4.cara menentukan ph dan poh suatu larutan penyangga.


B. Kritik & saran

hendaknya kalian jangan menyentuh asam yang terdapat di laboratorium terutama asam sulfat (h2so4) dan asam klorida (hcl) karena kedua asam tersebut jika terkena pada kulit, maka kulit kita akan melepuh dan akan mengakibatkan gatal-gatal.

Perlu anda ketahui bahwasanya larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit sehingga di dalam air akan terurai menjadi ion-ion.
Demikian laporan ini saya susun. Dan penulis mengucapkan banyak terima kasih atas pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikannya.

Penulis merasa cukup sekian kata penutup yang disampaikan. “tak ada gading yang tak retak”. Dalam laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang dapat membangun perbaikan makalah ini dan sedikit banyaknya saya ucapkan terima kasih.

Guna peyempurnaan makalah ini,saya sangat mengharapkan kritik serta saran dari dosen pembimbing beserta teman-teman kelompok lain.

Daftar pustaka

Dreisbach,Dale,1966,Liauids and Solution,Houghton Mifflin CO,Boston

Jones, R.E.; Templeton, D.H. 1958. The crystal structure of acetic acid.

Lancaster, Mike, 2002 Green Chemistry, an Introductory Text, Cambridge

Suresh, Bala, 2003. Acetic Acid,SRI International

Wagner, Frank S. 1978,  Acetic acid. In: Grayson, Martin (Ed.) Kirk-

Makalah Hakikat Agama Islam

Posted: 12 November 2012 in Uncategorized

MAKALAH
AGAMA ISLAM

HAKIKAT AGAMA ISLAM

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : NURHABLI RIDWAN
NIM : 1209008927
P. STUDY : TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2012
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat yang sudah diberikan saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar
Kita sebagai makhluk Allah SWT harus mengetahui apa hakikat-hakikat Agama islam. Hakikat-hakikat itu berisi Pengertian – pengertian Agama Islam. Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca bisa kembali lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan bisa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang mana semua itu tejadi karena keterbatasaan pemahaman penulis. Kemudian penulis megharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah ini, dan penulis bisa mengetahui sampai dimana kemampuan penulis.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Jika ada kesalahan tutur kata dalam pembuatan makalah ini mohon dimaklumi karena tidak ada didunia ini yang sempurna selain Allah SWT
Wassallamualaikum Wr.Wb

Medan, November 2012

NURHABLI RIDWAN
NIM : 1209008927

 

 

DAFTAR ISI

Kata pengantar ………………………………………………………………………………….ii
Daftar isi ……………………………………………………………………………………………….iii

BAB.I
PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………1
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………………….1
C. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………..1
B. Tujuan ……………………………………………………………………………………………….1

BAB II
LANDASAN MATERI…………………………………………………………………………..2
A. Pengertian………………………………………………………………………………………..2
B. Unsur-unsur agama……………………………………………………………………………7
C. Pengalaman Beragama……………………………………………………………………..11
D. Hakekat Agama Islam……………………………………………………………………..16

BAB III
PENUTUP…………………………………………………………………………………………….29
A. Kesimpulan ………………………………………………………………………………………29
B. Saran ……………………………………………………………………………………………….29

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………..30

 

 

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari pada aspek-aspek budaya yang di pelajari oleh para antropolog dan para ilmuwan sosial lainnya. Sangat penting bukan saja yang di jumpai pada setiap masyarakat yang sudah diketahui, tetapi karena juga penting saling pengaruh mempengaruhi antara lembaga budaya satu dengan yang lainya. Di dalam agama itu di jumpai ungkapan materi budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika. Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekeluaragaan, perkawian, ekonomi, hukum, dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu memberikan inspirasi untum memberontak dan melakukan peperangan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni, tidak terdapat suatu instuisi kebudayaan lainnya menyajikan suatu lapangan eksprresi dan implikasi begitu halus seperti halnya agama. Ide-ide keagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak dipaksa oleh hal-hal yang bersifat fisik sekirannya. Segala macam formula itu tidak menjumpai keterbasan dibanding dengan permasalahan spiritual yang dipertanyakan oleh manusia itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagamana hakikat agama yang sebenarnya?
2. Bagaimana usur-unsur agama sebenarnya?
3. bagaimana pengalaman beragama itu sebenarnya?
4. Bagaimana hakikat agama islam ?

C. Tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui hakikat agama yang sebenarnya
2. Untuk mengetahui unsur-unsur agama sebensrnya
3. Untuk mengetahui pengalaman beragama sebenarnya
4. Untuk mengetahui hakikat agama islam

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian agama
Agama dalam pengertiannya dapat dikelompokkan pada dua bahagian yaitu agama menurut bahasa dan agama menurut istilah. Beberapa persamaan arti kata“agama’’ dalam berbagai bahasa:
1. Ad din (Bahasa Arab dan Semit)
2. Religion (Inggris)
3.La religion (Perancis)
4. De religie (Belanda)
5. Die religion (Jerman)
Secara bahasa, perkataan ‘’agama’’ berasal dari bahasa Sangsekerta yang erat hubungannya dengan agama Hindu dan Budha yang berarti ‘’tidak pergi’’tetap di tempat, diwarisi turun temurun’’. Adapun kata din mengandung arti menguasai, menundukkan, kepatuhan, balasan atau kebiasaan.

Din juga membawa peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan. Kata din dalam Al Qur’an disebut sebanyak 94kali dalam berbagai makna dan kontek, antara lain berarti :
1. Pembalasan (Q.S Al Fatihah (1) ayat 4.
2. Undang-undang duniawi atau peraturan yang dibuat oleh raja (Q.S Yusuf (12)ayat 76.
3. Agama yang datang dari Allah SWT, bila dirangkaikan dengan kata Allah (Q.SAli Imran (3) ayat 83.
4. Agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai agama yang benar, yakni Islam, bila kata din dirangkaikan dengan kata al-haq (Q.S AtTaubah (9) ayat 33
5. Agama selain Islam (Q.S Al Kafirun(109) ayat 6 dan Q.S Ash Shaf (61) ayat 9.
Menurut Abu Ahmadi agama menurut bahasa :
1. Agama berasal dari bahasa Sangsekerta yang diartikan dengan haluan,peraturan, jalan atau kebaktian kepada Tuhan.
2. Agama itu terdiri dari dua perkataan yaitu A. berarti tidak, Gama berarti kacau balau, tidak teratur. Jadi agama berarti tidak kacau balau yang berarti teratur.
Agama menurut istilah adalah undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengikat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Maka orang yang beragama adalah orang yang teratur, orang yang tenteram dan orang yang damai baik dengan dirinya maupun dengan orang lain dari segala aspek kehidupannya.
Sebuah agama biasanya melingkupi tiga persoalan pokok, yaitu :
1. Keyakinan (credial), yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan mencipta alam.
2. Peribadatan (ritual), yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukannya.
3. Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan nya tersebut.
1. Klasifikasi Agama
Ditinjau dari sumbernya agama dibagi dua, yaitu agama wahyu dan agama bukan wahyu.
Agama wahyu (revealed religion) adalah agama yang diterima oleh manusia dari Allah Sang Pencipta melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh Rasul-Nya kepada umat manusia. Wahyu-wahyu dilestarikan melalui Al Kitab, suhuf (lembaran-lembaran bertulis) atau ajaran lisan.Agama wahyu menghendaki iman kepada Tuhan Pemberi wahyu, kepada rasul-rasul penerima wahyu dan kepada kitab-kitab kumpulan wahyu serta pesannya disebarkan kepada seluruh umat manusia
Agama bukan wahyu (agama budaya/ cultural religion atau natural religion) bersandar semata-mata kepada ajaran seorang manusia yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspeknya secara mendalam. Contohnya agama Budha yang berpangkal pada ajaran Sidharta Gautama dan Confusianisme yang berpangkal pada ajaran Kong Hu Cu.
Perbedaan kedua jenis agama ini dikemukakan Al Masdoosi dalam Living
Religious of the World sebagai berikut :
1. Agama wahyu berpokok pada konsep keesaan Tuhan sedangkan agama bukan wahyu tidak demikian.
2. Agama wahyu beriman kepada Nabi, sedangkan agama bukan wahyu tidak.
3. Dalam agama wahyu sumber utama tuntunan baik dan buruk adalah kitab suci yang diwahyukan, sedangkan agama bukan wahyu kitab suci tidak penting.
4. Semua agama wahyu lahir di Timur Tengah, sedangkan agama bukan wahyu lahir di luar itu.
5. Agama wahyu lahir di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh ras semetik.
6. Agama wahyu sesuai dengan ajarannya adalah agama misionari, sedangkan agama bukan wahyu agama misionari.
7. Ajaran agama wahyu jelas dan tegas, sedangkan agama bukan wahyu kabur dan elastis.
8. Agama wahyu memberikan arah yang jelas dan lengkap baik aspek spritual maupun material, sedangkan agama bukan wahyu lebih menitik beratkan kepada aspek spritual saja, seperti pada Taoisme, atau pada aspek material saja seperti pada Confusianisme.
Agama wahyu disebut juga agama samawi (agama langit) dan agama bukan wahyu disebut agama budaya (ardhi/ bumi). Sedangkan yang termasuk dalam kategori agama samawi hanyalah Agama Islam.

2. Ciri-ciri Agama Wahyu (langit)
1. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya, dan bukan tumbuh dari masyarakat,melainkan diturunkan kepada masyarakat.
2. Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. Utusan itu bukan menciptakan agama, melainkan menyampaikannya.
3. Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia.
4. Ajarannya serba tetap, walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia.
5. Konsep ketuhanannya adalah : monotheisme mutlak ( tauhid)
6. Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia , masa dan keadaan.
3. Ciri-ciri agama budaya (ardhi)
1. Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya.
2. Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan ( Rasul).
3. Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada akan mengalami perubahan-perubahan dalam perjalanan sejarahnya.
4. Ajarannya dapat berubah-ubah, sesuai dengan perubahan akal pikiranmasyarakatnya ( penganutnya).
5. Konsep ketuhanannya : dinamisme, animisme, politheisme, dan paling tinggi adalah monotheisme nisbi.
6. Kebenaran ajarannya tidak universal , yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia, masa, dan keadaan.
4. Agama Sebagai Kebenaran
Pertama, ada dua macam agama, di tinjau dari sumbernya, yaitu: (1) agama budaya, yakni agama ciptaan manusia sendiri dan (2) agama wahyu, yakni agama yang diwahukan Allah swt. Kepada manusia;
Kedua, semua agama wahyu, semua agama para nabi, adalah agama Islam. Oleh karena itu, menurut Al Qur’an, agama islam adalah satu-satunya agama wahyu. Untuk selanjutnya, apabila kita bicara tentang agama, maka yang kita maksudkan agama wahyu itulah.
Dalam kesempatan ini baik dan perlu sekali kita ulangi yang pernah kita simpulkan yaitu: pertama, bahwa percaya dan kepercayaan itu lekat dengan diri pribadi manusia; kita tidak dapat membayangkan manusia dapat hidup dengan wajar tanpa suatu kepercayaan apapun. Kedua, bahwa baik dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari, maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan, ataupun dalam bidang filsafat sekalipun, ternyata manusia tidak dapat melepaskan diri dari faktor kepercayaan. Ketiga, faktor kepercayaan ini memegang peranan pertama dan utama di dalam agama. Keempat, bentuk kepercayaan yang tinggi ialah agama.
B. Unsur-unsur agama.
Setiap agama pada dasarnya terdiri dari empat unsur, yaitu:
1. Ajaran (= teori; konsep) sebagai sisi gaib
2. Iman sebagai interaksi antara pelaku dan konsep,
3. Ritus (= upacara) sebagai sistem lambang, dan
4. Praktik ( = amal) sebagai perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat.
Dalam dïnul-islãm (‘agama Islam’) keempat unsur itu terungkap melalui Hadis Jibril, yang mencakup butir-butir di bawah ini.
1. Ajaran Allah sebagai konsep hidup
Dalam dialog tentang iman, Rasulullah menegaskan tentang masalah terpenting dari dïnul-islãm, yaitu adanya interaksi antara seorang mu’min dengan ajaran Allah, yang disampaikan (diajarkan) melalui malaikat-malaikatNya, dalam bentuk kitab-kitab, yang diterima rasul-rasulNya, untuk mencapai tujuan akhir (kehidupan yang baik di dunia dan akhirat), dengan menjadikan ajaran Allah sebagai qadar (ukuran; standard; teori nilai) baik-buruk menurutNya.
Ajaran Allah yang dimaksud adalah Al-Qurãn.
Al-Qurãn sebagai qadr atau taqdïr adalah sisi gaib (abstract level) dari dïnul-islãm, yang merupakan “teori nilai” untuk menentukan baik buruknya segala sesuatu menurut pandangan Allah.
2. Îmãn sebagai interaksi
Iman pada hakikatnya adalah interaksi (aksi timbal balik) antara Allah sebagai pemberi konsep hidup dengan si mu’min yang menyambut da’wah (ajakan; tawaran) Allah melalui rasulNya. Selanjutnya, interaksi itu berlangsung intensif melalui penghayatan si mu’min terhadap Al-Qurãn, sehingga Al-Qurãn menjadi satu-satunya konsep hidup yang tumbuh subur dalam ‘organ kesadaran’ (al-qalbu) si mu’min, yang selanjut meledak dan membanjir keluar melalui indra pengucapan (al-lisãnu), dan akhirnya menjelma menjadi berbagai bentuk tindakan dan kretifitas (al-‘amalu). Tepat seperti dinyatakan Rasulullah, misalnya dalam hadis riwayat Ibnu Majah: الإيمان عقد بالفلب و إقرار باللسان و عمل بالأركان .
3. Ritus sebagai sistem lambang
Dalam dïnul-islãm ada sejumlah ritus yang dalam Hadis Jibril disebut dengan nama Al-Islãm pula, yaitu:
1. a. Syahãdah sebagai sumpah setia (bay’ah). Pada masa Rasulullah jelas bahwa syahadat (syahãdah) adalah sebuah ‘upacara’ (ritus) untuk menyatakan sumpah setia seseorang terhadap dïnul-islãm, alias untuk meresmikan rekrutmen seseorang atau sejumlah orang sebagai anggota bun-yãnul-islãm (organisasi Islam).
2. b. Shalat sebaga sarana pembatinan nilai-nilai Al-Qurãn, sekaligus pembinaan jama’ah/korp Islam. Orang-orang yang menyatakan diri (bersyahadat) sebagai anggota organisasi Islam tentu harus memahami dan menghayati konsep organisasinya, yakni Al-Qurãn. Hal itu dilakukan melalui shalat, yang bacaan pokoknya adalah surat Al-Fãtihan (ummul-qurãn) ditambah dengan surat-surat lain yang terus dipelajarinya. Selain itu, melalui shalat jama’ah, mereka juga belajar untuk membangun sebuah jama’ah atau korp yang rapi dan kompak.
3. c. Zakat sebagai sistem ekonomi. Zakat, mulai dari zakat harta sampai zakat fitrah, pada hakikatnya melambangkan kesediaan setiap mu’min yang mampu untuk mendanai organisasi dan memperkuat jama’ah. Lebih lanjut, setelah organisasi menjelma menjadi sebuah sistem yang dipercaya untuk menata kehidupan umat (jama’ah mu’min plus komunitas-komunitas lain, seperti terlihat pada Piagam Madinah), maka zakat itu pun dikembangkan menjadi sistem ekonomi masyarakat secara umum.
4. d. Shaum Ramadhan sebagai pembina ketahanan mental dan fisik dalam menerapkan nilai-nilai Al-Qurãn. Seluruh anggota organisasi jelas membutuhkan pembinaan mental dan fisik, supaya menjadi anggota-anggota yang militan dan tangguh. Shaum Ramadhan adalah sarana yang tepat untuk itu.
5. e. Haji sebagai sarana pemersatu umat Islam sedunia. Ibadah haji merupakan ritus yang paling istimewa di antara kelima ritus dalam dïnul-islãm. Melalui hajilah umat Islam sedunia berkumpul, menjalin persahabatan, persaudaraan, dan persatuan berdasar kesamaan iman.
4. Praktik sebagai perwujudan konsep
Dïnul-islãm pada dasarnya adalah agama yang berorientasi pada praktik (amal). Tapi supaya praktinya tidak dilakukan sembarangan, Allah menempatkan rasulNya sebagai tokoh sentral untuk memimpin dan memberikan contoh penerapan setiap aspek ajaran Islam, mulai dari yang bersifat individu sampai pada yang bersifat kemasyarakatan. Tegasnya, pribadi Rasulullah adalah contoh sempurna dari individu mu’min, dan masyarakat yang dibangun beliau bersama jama’ahnya juga, otomatis, merupakan bentuk masyarakat yang ideal. Sebuah masyarakat yang mewakili Al-Qurãn sebagai konsepnya.
5. Ihsãn sebagai sistem kendali
Seperti ditegaskan Rasulullah dalam Hadis riwayat Muslim, bahwa Allah menentukan al-ihsãn(u) pada setiap urusan, sampai pada urusan menyembelih hewan, maka bisa disimpulkan bahwa ihsan adalah sistem kendali (kontrol) atas setiap pelaksanaan ajaran Allah. Dengan demikian, harfiah, ihsan bisa diterjemahkan sebagai “kecermatan, ketelitian, dan keseksamaan dalam melaksanakan ajaran Allah”.
Bagi kita sekarang, sikap ihsan harus diterapkan pertama-tama dalam konteks studi ajaran Allah itu sendiri, yang mencakup musshaf Al-Qurãn, kitab-kitab Hadits, plus buku-buku sejarah, dan lain-lain yang berkaitan. Studi ini harus mengarah pada “ditemukannya makna Al-Qurãn yang utuh dan murni”, yaitu suatu makna yang mampu merekonstruksi pribadi-pribadi (tokoh-tokoh), jama’ah, dan umat yang dulu dibangun Rasulullah bersama para sahabat beliau. Suatu makna yang, pertama-tama, mampu menegaskan bahwa persatuan para mu’min adalah mutlak wajib, dan perpecahan mereka adalah mutlak haram!

6. Sã’ah sebagai peluang da’wah
Harfiah, sã’ah berarti waktu, tapi waktu di sini bukanlah sembarang waktu. Dalam konteks Nabi Muhammad pada masanya, sã’ah yang dimaksud adalah waktu yang dibentangkan Allah sebagai wilayah da’wah hingga mencapai hasil. Tepatnya, waktu yang dimaksud adalah 13 tahun dalam Periode Makkah, dan 10 tahun dalam Periode Madinah. Yang pertama (Periode Makkah) merupakan masa perjuangan untuk memperkenalkan konsep Allah dan membangun jama’ah. Yang kedua (Periode Madinah) adalah masa pembangunan konsep Allah itu menjadi sebuah sistem pemerintahan.
7. Tanda-tanda sã’ah sebagai gambaran tujuan
Melalui Hadis Jibril kita mendapat gambaran bahwa tujuan penegakan ajaran Allah pada dasarnya adalah demi mencapai target-target:
1. a. Lenyapnya diskriminasi kelas dan gender, yang merupakan produk feodalisme dan antek-anteknya, dan
2. b. Lenyapnya kemiskinan struktural, yang merupakan produk kapitalisme dan antek-anteknya.
Feodalisme dan kapitalisme adalah musuh Al-Qurãn pada masa Rasulullah, dan juga pada masa sekarang.
• Agama sebagai pustaka kebenaran.
• Iman: sikap jiwa
• Iman: pertama dan utama
• Agama sebagai kebenaran
• Kebenaran mutlak dan kebenaran relatif
C. Pengalaman Beragama
Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari pada aspek-aspek budaya yang dipelajari oleh para antropolong dan para ilmuan sesial lainnya. Sangat penting bukan saja yang di jumpai pada setiap masyarakat yang sudah diketahui, tetapi juga karena penting saling pengaruh mempengaruhi antara lembaga budaya satu sama lainya. Didalam agama itu dijumpai ungakapan meteri budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika. Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekluaragaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperanagan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni. Tidak terdapat suatu institusi kebudayaan lain yang menyajikan suatu lapangan ekspresi dan implliksi begitu halus seperti halnya agama. Ide-ide kagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak di periksa oleh hal-hal yang bersifat fisik sekiranya. Segala macam fornula itu tidak menjumpai keterbatasan di banding permasalahan spiritual yang dipertanyakan oleh manusia itu sendiri.
1. 1. Animisme
Animisme besal dari keta anima, animae; dari bahasa latin ‘animus’ dan bahasa yunani ‘avepos’, dalam bahasa sansakerta disebut ‘prana’ dalam bahasa brani disebut ‘Ruah’ yang artinya ‘napas’ atau ‘’jiwa’. Ia, adalah ajaran atau doktrin tentang realitas jiwa.
Dalam filsafat, animisme adalah doktrin yang menempatkan asal mula kehidupan mental dan fisik dalam suatu energi yang lepas atau sekurang-kurangnya berbeda dari jasad. Atau, animisme adalah teori bahwa segala objek-objek alami itu bernyawa atau berjiwa, mempunyai ‘spirit’ dan bahwa kehidupan mental dan fisik bersumber pada nyawa, jiwa atau ‘spirit’ tadi.
Dan dalam studi tentang sejarah agama prinsip kita mengenal ‘Necrolaty’, ‘Spiritisme’, ‘Naturisme’, dan ‘Animisme’. Necroalty adalah pemujaan terhadap roh-roh atau jiwa manusia dan binatang, terutama pemujaan terhadap roh orang yang telah meninggal. Spiritisme adalah pemujaan terhdap makluk spiritual yang tidak dihubungkan dalam suatu cara yang mapan dengan jasad-jasad tertentu dan obyek-obyek tertentu.

2. Dinamisme
Manusia mulai menganalisa setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Sebelumnya, manusia primitif mulai mengeluarkan teori-teori tentang hakikat benda atau materi. Ia mulai menggabungkan antara keberadaan ruh manusia dengan keberadaan benda lain seperti air, udara, api, dan tanah.
Animisme berkembang lebih awal daripada dinamisme. Animisme menitikberatkan pada perkembangan ruh manusia. Mulai dari sini, manusia primitif menyimpulkan bahwa setiap materi yang memiliki sifat yang sama, maka memiliki substansi yang sama pula. Jika manusia mati dan hidup, tidur dan terjaga, kuat dan lemah, diam dan bergerak, kemudian manusia diyakini memiliki ruh, maka pepohonan, binatang, laut, api, matahari, bulan, dan materi-materi lainnya pun memiliki ruh seperti manusia.
Menurut mereka, setiap materi memiliki kesamaan sifat dengan manusia. Sebagai contoh, api memiliki sifat yang sama dengan manusia. Api memiliki kekuatan untuk membunuh atau melenyapkan apapun dengan panasnya sebagaimana manusia mampu membunuh binatang dengan kekuatan tangannya. Karena itulah, api mempunyai ruh. Bagi manusia primitif, menyembah api adalah proses menghormati keberadaan api itu sendiri. Penyembahan tersebut dilakukan agar tidak terjadi kebakaran seperti kebakaran hutan, sedangkan kebakaran diyakini sebagai bentuk kemurkaan api. Selanjutnya, berkembanglah paham banyak tuhan, banyak roh, banyak dewa, atau banyak kekuatan ghaib. Setiap kawasan bumi, hutan, sungai, laut, atau bahkan ruang angkasa, semuanya diyakini memiliki kekuatan tersendiri.

3. Sinkretisme agama
Animisme dan dinamisme adalah kepercayaan kuno yang tumbuh lebih awal sebelum kedatangan Islam di nusantara. Walaupun pada hakikatnya, agama Islam adalah kepercayaan yang pertama kali ada dalam kehidupan manusia. Nabi Adam adalah manusia pertama yang menganut Islam. Oleh karena itu, animisme dan dinamisme tidak lain adalah salah satu bentuk dari penyelewengan ajaran Allah. Namun bagaimanapun juga, penyebaran Islam di nusantara memang tidak bisa dipungkiri akan adanya perpaduan atau percampuradukan antara ajarannya yang agung dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.
Dampak dari adanya sinkretisme agama ini terlihat nyata di sekeliling kita. Sebagai contoh, adanya penghormatan khusus terhadap roh nenek moyang yang menjadi leluhur kita. Atau adanya pemujaan khusus terhadap Ratu Pantai Selatan. Atau bahkan menyebarnya cerita-cerita khurafat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat muslim. Selain itu, menyebarnya praktik sihir dan perdukunan adalah produk asli dari animisme dan dinamisme. Terlebih, sinkretisme telah melegalkan bahwa praktik perdukunan adalah ajaran Islam juga. Hal ini terlihat dengan meluasnya praktik-praktik sihir yang dilakukan oleh orang-orang yang bertitel ’kyai’. Semua ini adalah realita yang nyata akibat sinkretisme agama.
Sebenarnya, banyak beberapa sisa-sisa animisme dan dinamisme, terutama di nusantara, baik ajaran tersebut masih murni ataupun telah ada pembauran dengan Islam. Berikut beberapa contoh sisa-sisa animisme dan dinamisme:
4. Upacara dan Ritual Adat
Banyak masyarakat kita yang masih mempertahankan beberapa macam upacara atau ritual yang masih murni berkaitan dengan animisme dan dinamisme atau telah mengalami pembauran dengan Islam. Salah satu contohnya dalah upacara kelahiran dan kematian. Hampir di setiap daerah nusantara menggelar upacara kelahiran dan kematian dengan ritual-ritual berbeda. Contoh, di Aceh terdapat upacara Peugot Tangkai. Upacara ini adalah perajahan barang/benda dengan membacakan mantera untuk dipakai pada wanita hamil empat bulan.
Tentang acara ritual kematian dalam adat masyarakat Aceh yang sampai sekarang ini masih diamalkan seperti, apabila ada kematian di sebuah keluarga, maka semua pakaian dan kain-kain yang menyelimuti mayat tadi disimpan pada suatu tempat. Kain-kain ini disebut dengan reuhab. Biasanya disimpan di atas tempat tidur untuk selama empat puluh hari atau empat puluh empat hari. Setelah selesai upacara penguburan tadi, mulai malam pertama sampai dengan malam ketiga diadakan samadiah atau tahlil. Masih banyak lagi ritual-ritual aneh seperti membakar kemenyan pada malam jum’at kliwon dan selasa kliwon. Menyediakan sesaji pada hari kelahiran bayi. Di kamar bayi yang baru lahir digantungkan keris dan kain merah. Atau sesaji di bawah pohon beringin.
5. Kesenian Budaya
Di bumi nusantara ini, masih terdapat beberapa macam kesenian yang jelas berasal dari budaya animisme dan dinamisme. Satu contoh seperti Tarian Kuda Lumping di Jawa Barat. Biasanya, sebelum pertunjukkan dimulai, para peserta wajib dibekali mantera-mantera tertentu oleh sang dukun sebagai pengendali acara. Setelah itu, sang penari kuda kesurupan dan bertingkah aneh layaknya orang gila. Para penari itu terlihat lincah memainkan kuda mainan dan bahkan mereka makan pecahan kaca atau beberapa ekor ayam yang masih hidup. Para penari tidak merasakan sakit akibat pecahan kaca yang mereka makan atau merasa jijik dengan daging ayam yang dimakan hidup-hidup, semuanya karena ada roh lain yang merasuk dalam diri mereka. Roh itulah (jin) yang mengendalikan si penari.

6. Mitos
Cerita-cerita mitos yang menyesatkan memang masih merebak luas di tengah masyarakat. Masih banyak yang percaya bahwa ruh orang yang mati terbunuh akan menjelma menjadi hantu. Ada yang menyebutnya dengan istilah pocong, genderewo, dan lain-lain. Yang pasti, hantu tersebut akan gentayangan ke setiap tempat untuk membalas dendam. Jika yang mati adalah orang jahat, maka ia akan menjelma menjadi babi atau kera. Jelmaan ini akan mengganggu warga sekitar yang masih hidup.
Lebih lanjut, terdapat pula sisa-sisa animisme dan dinamisme yang berkembang. Seperti, mitos bulan Safar yang dianggap membawa sial. Mitos ini sangat dikenal oleh masyarakat kita, terutama masyarakat muslim. Adanya mitos demikian, sehingga terdapat ritual tertentu yang dijalankan untuk menolak bala di bulan Safar.
Di masyarakat Parahyangan dan Jawa, tersebar mitos-mitos yang berkembang sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam konsep ketuhanan orang Sunda sebelum Hindu, Hyang (sanghyang, sangiang) diyakini sebagai Sang Pencipta (Sanghyang Keresa) dan Yang Esa (Batara Tunggal) yang menguasai segala macam kekuatan, kekuatan baik ataupun kekuatan jahat yang dapat mempengaruhi roh-roh halus yang sering menetap di hutan, sungai, pohon, atau di tempat-tempat dan benda-benda lainnya. Ketika muncul proses Islamisasi di Nusantara, istilah sembahyang pun lahir dari tradisi menyembah Hyang (Yang Tunggal).

D.Hakekat Agama Islam
1. Arti dan Ruang LingkupAgama Islam
Apabila dicari dari asal katanya, Islam berasal dari kata aslama yang merupakan turunan dari (derivasi) dari kata asslmu, assalamu, assalamatu yang artinya bersih selamat dari kecacatan lahir batin. Agama Islam adalah agama wahyu yang bedasarkan tahuid, atau keesaan Tuhan diketahui manusia bedasarkan kabar dari Tuhan itu sendiri melalaui fiirman yang disampaikan kepada Rasul Nya. Islam satu-satunya yang memiliki kitab suci yang asli dan autentik, tidak mengalami perubahan semenjak diturunkan pada abad ke-6 maasehi sampai sekarang bahkan sampai akhir zaman Rasul yang menerima wayu Allah bernama Muhamad putra Abdullah yang memiliki silsilah dan keturunan yang jelas. Beliau dilahirkan di mekah tahun 571 masehi dan mendapat wahyu yang pertama kali ketika beliau berusia 40 tahun. Isi kitab Al-Quran semuanya firman Allah yang disampaikan dengan bahasa arab salah satu bahasa yang telah, sedang dan akan digunakan manusia sepanang masa. Ajaran Isalam berlaku Universal untuk segala tempat dan bangsa serta berlaku abadi sepanjang masa sebagaimana diungkapkan AL-Quran surat AL-Ambyaa.(21):107 yang artimya:
Dan tidaklah kami menggutus kamu, melainkan untuk (menjadi )rahmat bagi semesta alam.
Ayat ini megisyaratkan bahwa ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhamad(Islam) ditujukan untuk semua manusia pada semua tempat dan waktu
.
2.Islam Agama Universal
Agama Islam sering dipandang secara sempit sebagai agama dogma dan berisi ibadah ritual saja. Padahal aspek ruitual hanya sebagaian saja dan komponen ajaran Islam, karena ajaranya berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia yang sekaligus memberikan nilai-nilai esensial terhadap semmua aspek tersebut.
Islam diturunkan untuk menata kehidupan manusia di dunia, sedangkan akhirat adalah hasil dari kehidupan dunia Islam menunjukkan jalan dan arah yang ditempuh untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat

3. Islam Agama Rahmat Lil Alamin
Islam diturunkan kepada manusia berfungsi sebagai rahmad namun nilai rahmat tersebut akan berpengaruh kepada manusian yang melaksanaakan ajaran agamanya secara totalitas sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqrah ayat 208 yang artinya:
Hai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam Islam seluruhnya, dan jaganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Tulisan ini adalah nasehat yang ditujukan kepada saya dan sebagian orang yang sering membawa perkataan “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya menjadi pengecut, tidak berani mengatakan itu salah dan ini benar sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah serta dipahami oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum..
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
Memang Islam agama yang memerintahkan kasih sayang, sikap lembut, santun, tidak menyusahkan, tidak membuat orang lari akibat syariatnya …
{ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } [الأنبياء: 107]
Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS. Al Anbiya: 107.
Berkata Al ‘Allamah Syeikh Al Mufassir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah (w: 1393H):
وَمَا ذَكَرَهُ – جَلَّ وَعَلَا – فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ مِنْ أَنَّهُ مَا أَرْسَلَهُ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالِمِينَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ جَاءَ بِالرَّحْمَةِ لِلْخَلْقِ فِيمَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ . وَهَذَا الْمَعْنَى جَاءَ مُوَضَّحًا فِي مَوَاضِعَ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى : أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [29 \ 51] وَقَوْلِهِ : وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ الْآيَةَ [28 \ 86] .
وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ . قَالَ : «إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً» .
Artinya: “Apa yang telah disebutkan Allah Jalla wa ‘Ala di dalam ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah Ta’ala tidaklah mengutus beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam-pent) kecuali sebagai rahmat untuk alam semesta, yang menunjukkan bahwa beliau datang dengan rahmat untuk seluruh makhluk sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al Quran yang Mulia ini.
Dan makna ini telah disebutkan di beberapa tempat dari Kitabullah, seperti firman Allah Ta’ala:
{ أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} [العنكبوت: 51]
Artinya: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. QS. Al Ankabut: 51.
Dan Firman-Nya:
{وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]
Artinya: “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir”. QS. Al Qashash: 86.
Dan di dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah pernah ditanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah engaku mendoakan keburukan untuk orang-orang musyrik?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
«إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً» .
Artinya: “Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat”. Lihat Tafsir Adhwa Al Bayan.
Bahkan bersikap lembut sampai kepada Fir’aun sang pengaku tuhan…
Coba perhatikan Firman Allah Ta’ala ketika mengutus Nabi Musa dan Harun ‘alaihissalam kepada Fir’aun:
{ اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)} [طه: 43، 44]
Artinya: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. QS. Thaha: 43-44.
Dan, memang salah satu sifat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang beriman bersamanya adalah saling menyayangi diantara mereka:
{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ} [الفتح: 29]
Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. QS. Al Fath:29.
Dan, memang pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita adalah agar bersikap lembut penuh kasih sayang, santun…
عن عائشة رضي الله عنها: أنَّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال « يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الأَمْرِ كُلِّهِ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai yang lembut di dalam seluruh perkara”. HR. Bukhari.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai yang lembut, memberi dalam sikap lembut suatu yang tidak diberikan dalam sikap keras dan tidak memberi atas apa yang selain sikap lembut”. HR. Muslim.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sikap lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah (sikap lembut) dicabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya”. HR. Muslim.
عَنْ جَرِيرٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ ».
Artinya: “Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang diharamkan dari sikap lembut maka niscaya diharamkan kebaikan (baginya)”. HR. Muslim.
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا ، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا » . البخاري
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mudahkan dan jangan dipersulit, berikan kabar gembira dan jangan dibuat lari”. HR. Bukhari.
Bahkan ada orang kencing di masjid dibiarkan sampai selesai untuk menunjukkan kemudahan dan ketidak sulitan…!
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِى الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ » . البخاري
Artinya: “Bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Seorang A’raby (orang kampung Arab) berdiri dan kencing di masjid, lalu orang-orangpun ingin menghajarnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallampun bersabda kepada mereka: “Biarkan dia dan tuangkanlah di atas kencingnya seember dari air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan dan tidak diutus memberikan kesulitan”. HR. Bukhari.
Masih banyak lagi ayat atau hadits yang semisal dengan di atas.
Tapi meskipun dengan semua yang disebutkan di atas… Jangan LUPA!
1. Islam juga agama yang mengajarkan selalu dan wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar sebagaimana yang sudah ditentukan caranya oleh Islam.
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} [آل عمران: 110]
Artinya: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. QS. Ali Imran: 110.
Ayat di atas menunjukkan gelar “umat yang terbaik” akan disandang umat ini selama syarat dilaksanakan, yaitu AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [آل عمران: 104]
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imran: 104.
Ayat di atas menunjukkan perintah untuk AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR dan pelakunya, dialah orang yang beruntung.
{ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ} [آل عمران: 114]
Artinya: “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh”. QS. Ali Imran: 114.
Ayat di atas menunjukkan bahwa tanda keimanan dan keshalihan adalah menegakkan AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.
{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [التوبة: 71]
Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS. At Taubah: 71.
Ayat di atas menunjukkan bahwa bentuk pertolongan seorang beriman kepada sesama orang yang beriman adalah menegakkan AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.
2. Islam juga agama yang mewajibkan untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Jangan dibalik! Apalagi disebabkan karena posisi di masyarakat, tekanan sosial, takut dijauhi, takut ditinggal jama’ah, takut dimarahi, takut menyalahi arus, atau takut dibenci manusia atau semisal dengan alasan-alasan ini.
Contoh: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dimintai sesuatu oleh shahabatnya, yang nota benenya, mereka adalah orang yang sangat butuh untuk disikapi lembut, agar hati mereka teguh di dalam Islam. Tapi karena yang mereka minta adalah perkara yang merupakan sarana kesyirikan, maka beliaupun shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan sikap yang tegas dan keras dihadapan mereka.
عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ».
Artinya: “Abu Waqid Al Laitsy radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pergi ke daerah Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik kaum musyrik, yang disebut pohon Dzatu Anwath, mereka (kaum musyrik) menggantungkan senjata mereka di atasnya, maka para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik mereka (kaum musyrik)”. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Maha Suci Allah, ucapan ini adalah sebagaimana perkataan kaumnya Musa (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) (yang artinya: Wahai Musa! Jadikanlah untuk kami sebuah sembahan sebagaiman mereka memiliki sembahan), demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang sebelum kalian”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.
Demi Allah, sungguh tidak ada manusia yang paling lembut, santun, kasih sayang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi beliau tetap tegas dan keras ketika hal itu dibutuhkan.
Contoh lain:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ. فَقَالَ « جَعَلْتَنِى لِلَّهِ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ »
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ada seorang yang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesuai dengan apa yang telah dikehendaki Allah dan anda (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)”, lalu Nabi membalas ucapannya: “Kamu telah menjadikanku sejajar dengan Allah, akan tetapi (katakanlah) sesuai dengan Kehendak Allah satu-satu-Nya”. HR. Ahmad dishahihkan oleh Al Albani.
Contoh lain: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, meskipun beliau berlemah lembut ketika memanggil bapaknya, tetap saja beliau mencegah kemungkaran yang dilakukan bapak beliau:
{يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)} [مريم: 43 – 45]
Artinya: “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. QS. Maryam: 43-45.
Lihat! bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap memanggil dengan panggilan yang lembut tapi tetap juga AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR.
Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah:
1. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.
2. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya menyembunyikan kebenaran.
3. Janganlah dengan dalih “Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang“, akhirnya tidak berani mengatakan ini salah, ini kesyirikan, ini bid’ah, ini maksiat dan tidak boleh dikerjakan.
Ingatlah…
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وأرضى الناس عنه وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سخط الله عليه وأسخط عليه الناس » رواه ابن حبان
Artinya: “Aisyah radhiyallah ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan kemarahan manusia maka Allah kan meridhainya dan menjadikan manusia ridha kepadanya, dan siapa yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani.
Ingatlah…
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَال: َقال رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قُلِ الْحَقَّ، وَإِنْ كَانَ مُرًّا ” .
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah yang benar meskipun hal itu pahit“. Hadits riwayat Ibnu Hibban dan dishahihkan dengan riwayat-riwayat pembantu oleh Al Albani.
Ingatlah…
قال أبو علي الدَّقاق رحمه الله : ( الساكتُ عن الحقِّ شيطان أخرس , والُمتكلِّم بالباطل شيطانٌ ناطق )
Abu Ali Ad Daqqaq rahimahullah (w: 516H) berkata: “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu, sedang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”. Lihat kitab I’lam Al Muwaqqi’in dan Al Jawab Al Kafi, karya Ibnul Qayyim.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Hakikatnya agama adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, maka sangat perlu dipahami secaraseksama oleh setiap manusia. Agama juga membawa peraturan-peraturan berupa hukum-hukum yang harus dipatuhi baik dalam bentuk perintah yang wajib dilaksanakan maupun berupa larangan yang harus ditinggalkan.
Setiap agama pada dasarnya terdiri dari empat unsur, yaitu:
1. Ajaran (= teori; konsep) sebagai sisi gaib
2. Iman sebagai interaksi antara pelaku dan konsep,
3. Ritus (= upacara) sebagai sistem lambang, dan
4. Praktik ( = amal) sebagai perwujudan konsep dalam segala segi kehidupan individu dan masyarakat.
Agama itu saling pengaruh mempengaruhi dengan sistem organisasi kekluaragaan, perkawinan, ekonomi, hukum dan politik. Agama juga memasuki lapangan pengobatan, sains dan teknologi. Serta agama itu telah memberikan inspirasi untuk memberontak dan melakukan peperanagan dan terutama telah memperindah dan memperhalus karya seni. Tidak terdapat suatu institusi kebudayaan lain yang menyajikan suatu lapangan ekspresi dan implliksi begitu halus seperti halnya agama.
3.2. Saran
Dalam kehidupan beragama harus ditanamkan sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Karena sesama muslim atau manusia adalah bersaudara. Dan Agama Islam sangat cinta perdamaian.

 

Dafatar Pustaka
Abu A’la Maududi, 1967, Towards Understanding Islam, Islamic Fublication Ltd, Lahore, Dacca,
Dr. H. Muhibbuddin Waly MA, 1971 , Sejarah Syari’ah Islam di Indonesia, Majalah Ilya Ulumuddin,
E. Saifuddin Anshari, 1980 , Kuliah Al Islam, Perp. Salman ITB, Bandung,
Saifuddin Anshari, Endang. 1987 , Ilmu Filsafat dan Agama. PT Bina Ilmu.. Surabaya
Sidi Gazalba, 1975 , Anzis Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta,

Kata Pengantar

Posted: 28 Oktober 2012 in Uncategorized

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah memberikan rahmat,hidayah serta kesempatan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah kimia anorganik “asidimetri (alkalimetri)” ini tepat pada waktunya.

Tugas ini dibuat dan disusun sebagia bukti atas pembelajaran yang saya ikuti, dan semoga tugas ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pembelajaran dan penilain, amin.

Tugas yang saya buat dan susun ini tentu jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya mohon kerjasamanya untuk kesempurnaan tugas-tugas saya berikutnya.

Seperti kata pepatah “Tiada gading yang Tak Retak”,demikian pula dengan makalah ini,tentu masih banyak kekurangan,maka dari pada itu,saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.Akhir kata saya sampaikan,semoga makalah ini dapat berguna dan membantu proses pembelajaran bagi para mahasiswa,terutama bagi saya sebagai penyusun.

Medan, oktober 2012
Penyusun

Nurhabli Ridwan

NIM : 1209008927

Makalah Asidimetri

Posted: 28 Oktober 2012 in Uncategorized

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah memberikan rahmat,hidayah serta kesempatan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah kimia anorganik “asidimetri  (alkalimetri)” ini tepat pada waktunya.

Tugas ini dibuat dan disusun sebagia bukti atas pembelajaran yang saya ikuti, dan semoga tugas ini dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam pembelajaran dan penilain, amin.

Tugas yang saya buat dan susun ini tentu jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya  mohon kerjasamanya untuk kesempurnaan tugas-tugas saya berikutnya.

Seperti kata pepatah “Tiada gading yang Tak Retak”,demikian pula dengan makalah ini,tentu masih banyak kekurangan,maka dari pada itu,saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.Akhir kata saya sampaikan,semoga makalah ini dapat berguna dan membantu proses pembelajaran bagi para mahasiswa,terutama bagi saya sebagai penyusun.

 

 

 

Medan,  oktober 2012
Penyusun
Nurhabli Ridwan

NIM : 1209008927

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif.

Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).

Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH.

Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.

Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.

Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.

1.1.1. Tujuan

Adapun tujaun dari pembuatan makalah ini yaitu:

1. sebagai sumber informasi untuk mahasiswa.

2. Agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman khusunya bagi mahasiswa mengenai asidimetri.

1.1.2. Rumusan masalah

a. Faktor – faktor yang mempengaruhi asidimetri?

b. Apa yang di maksud dengan asidimetri?

c. Rumus – rumus asidimetri ?

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis

volumetric adalah sebagai berikut :

1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.

2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.

3 Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen

tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.

4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia

atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.

Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai

berikut :

1. Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret, labu tentukur, dan

pipet volume yang telah di kalibrasi.

2. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti

atau baku primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.

3. Indikator atau alat lain yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi

telah di capai.

Baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan larutan standar misalnya arsen trioksida pada pembakuan larutan iodium.

Baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer, dan kemudian digunakan untuk membakukan larutan standar, misalnya larutan natrium tiosulfat pada pembakuan larutan iodium.

000

Gambar 1. Peralatan yang dipergunakan dalam volumetri (Chang, 2005)

1.2. Penggolongan Analisis Titrimetri

Analisi kuantitatif titrimetri sangat banyak dipakai dalam analisa jumlah di laboratorium analisis maupun laboratorium industri. Keberagaman analisa titrimetri ini dapat di kelompokkan berdasarkan analit yang aakan di uji, proses dari reaksi selama titrasi dan lainnya. Berikut kami sajikan pengelompokan analisis titrimetri :

1.2.1. Berdasarkan reaksi kimia

a. Reaksi asam-basa (reaksi netralisasi)

b. Reaksi oksidasi-reduksi (redoks)

c. Reaksi Pengendapan (presipitasi)

d. Reaksi pembentukan kompleks

1.2.2. Berdasarkan cara titrasi

a. Titrasi langsung

b. Titrasi kembali (titrasi balik/residual tiitration)

1.2.3. Berdasarkan jumlah sampel

a. Titrasi makro

Jumlah sampel : 100 mg – 100 mg
Volume titran : 10 – 20 mL
Ketelitian buret : 0,02 mL.
· b. Titrasi semi mikro

Jumlah sampe : 10 mg – 100 mg
Volum titran : 1 mL – 10 mL
Ketelitian bure t : 0,001 mL

· c. Titrasi mikro
Jumlah sampel : 1 mg – 10 mg
Volume titran : 0,1 mL – 1 mL
Ketelitian buret : 0,001 mL

Analit adalah zat yang akan ditentukan konsentrasi/kadarnya. Titran merupakan zat yang digunakan untuk mentitras

1.3. Larutan Standar

Proses analisis untuk menentukan jumlah yang tidak diketahui dari suatu zat, dengan mengukur volume larutan pereaksi yang diperlukan untuk reaksi sempurna disebut analisis volumetri. Analisis ini juga menyangkut pengukuran volume gas.

Proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna disebut titrasi. Larutan yang diketahui konsentrasinya disebut larutan standard. Proses penentuan konsentrasi larutan standard disebut “menstandardkan” atau “membakukan”. Larutan standard adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetrik. Ada cara dalam menstandarkan larutan yaitu:

Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standard primer, sedangkan zat yang digunakan disebut standard primer.
Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu, tetapi dapat distandardkan dengan larutan standard primer, disebut larutan standard sekunder.

1.3.1. Larutan Standra Primer

Larutan titran haruslah diketahui komposisi dan konsentrasinya.
Idealnya kita harus memulai dengan larutan standar primer. Larutan standar
primer dibuat dengan melarutkan zat dengan kemurnian yang tinggi
(standar primer) yang diketahui dengan tepat beratnya dalam suatu larutan
yang diketahui dengan tepat volumnya. Apabila titran tidak cukup murni,
maka perlu distandardisasi dengan standar primer.

Persyaratan standar primer

1. Kemurnian tinggi

2. Stabil terhadap udara

3. Bukan kelompok hidrat
4. Tersedia dengan mudah

5. Cukup mudah larut
6. Berat molekul cukup besar

Contoh larutan standar primer :

Arsen trioksida (As2O3) dipakai untuk membuat larutan natrium arsenit NaASO2 yang dipakai untuk menstandarisasi larutan natrium periodat NaIO4, larutan iodine I2, dan cerium (IV) sulfat Ce(SO4)2.
Asam bensoat dipakai untuk menstandarisasi larutan natrium etanolat, isopropanol atau DMF.
Kalium bromat KBrO3 untuk menstandarisasi larutan natrium tiosulfat Na2S2O3.
Kalium hydrogen phtalat (KHP) dipakai untuk menstandarisasi larutan asam perklorat dan asam asetat.
Natrium Karbonat dipakai untuk standarisasi larutan H2SO4, HCl dan HNO3.
Natrium klorida (NaCl) untuk menstandarisasi larutan AgNO3
Asam sulfanilik (4-aminobenzene sulfonic acid) dipakai untuk standarisasi larutan natrium nitrit.

1.3.2. Larutan Standar Sekunder

Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer. NaOH tidak dapat dipakai untuk standar primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh sebab itu maka NaOH harus dititrasi dahulu dengan KHP agar dapat dipakai sebagai standar primer. Begitu juga dengan H2SO4 dan HCl tidak bisa dipakai sebagai standar primer, supaya menjadi standar sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan larutan standar primer NaCO3.

1.3.3. Larutan Standar Tersier

Larutan standar tersier adalah larutan yang konseentrasinya diperoleh dengan cara menitrasi dengan larutan standar sekunder yang terlebih dahulu telah distandarisasi dengan larutan standar primer.

BAB II

PEMBAHASAN

2.Titrasi Asam – Basa

Titrasi asam basa atau yang lebih dikenal dengan analisis volumetri metoda asidi – alkalimetri, merupakan metoda titrimetri dengan larutan yang bersifat asam ataupun basa.

2.1. Prinsip Dasar Titrasi

Reaksi penetralan dalam analisis titrimetri lebih dikenal sebagai reaksi asam basa. Reaksi ini menghasilkan larutan yang pH-nya lebih netral. Secara umum metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia sebagai berikut :

aA + tT à produk

dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul pereaksi T. untuk menghasilkan produk yang sifat pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut salah satu larutan (larutan standar) konsentrasi dan pH-nya telah diketahui. Saat equivalen mol titran sama dengan mol analitnya begitu pula mol equivalennya juga berlaku sama.

n titran = n analit

n eq titran = n eq analit

Dengan demikian secara stoikiometri dapat ditentukan konsentrasi larutan ke dua. (anonim, 2009).

Dalam analisis titrimetri, sebuah reaksi harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum reaksi tersebut dapat dipergunakan, diantaranya:

1. reaksi itu sebaiknya diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu dan tidak adanya reaksi sampingan

2. reaksi itu sebaiknya diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Dengan kata lain konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar besar. Maka dari itu dapat terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.

3. diharapkan tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalen tercapai. Dan diharapkan pula beberapa indikator atau metode instrumental agar analis dapat menghentikan penambahan titran

4. diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan hanya beberapa menit. (anonim, 2009).

Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya (Day, dkk, 1986).

Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi) sampai terjadi perubahan warna indikator baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indikator, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indikator dan titrasi diakhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapkan titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7 (netral).

Proses penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi. Titik dimana reaksi itu tepat lengkap, disebut titik ekivalen (setara) atau titik akhir teoritis. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran. Lengkapnya titrasi, harus terdeteksi oleh suatu perubahan, yang tak dapat disalah lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar (biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret) itu sendiri, atau lebih lazim lagi, oleh penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indikator (Anonim, 2009).

2.2. Asidi – Alkalimetri

Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa).

H+ + OH- à H2O

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.

Untuk menetapkan titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indikator. Menurut W. Ostwald, indikator adalah suatu senyawa organik kompleks dalam bentuk asam atau dalam bentuk basa yang mampu berada dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari bentuk satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu.

Jalannya proses titrasi netralisasi dapat diikuti dengan melihat perubahan pH larutan selama titrasi, yang terpenting adalah perubahan pH pada saat dan di sekitar titik ekuivalen karena hal ini berhubungan erat dengan pemilihan indikator agar kesalahan titrasi sekecil-kecilnya.

Larutan asam bila direaksikan dengan larutan basa akan menghasilkan garam dan air. Sifat asam dan sifat basa akan hilang dengan terbentuknya zat baru yang disebut garam yang memiliki sifat berbeda dengan sifat zat asalnya. Karena hasil reaksinya adalah air yang memiliki sifat netral yang artinya jumlah ion H+ sama dengan jumlah ion OH- maka reaksi itu disebut dengan reaksi netralisasi atau penetralan. Pada reaksi penetralan, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Ketepatan pemilihan indikator merupakan syarat keberhasilan dalam menentukan titik ekivalen. Pemilihan indikator didasarkan atas pH larutan hasil reaksi atau garam yang terjadi pada saat titik ekivalen.

Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam-basa. Titrasi adalah cara penentuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Bila titrasi menyangkut titrasi asam-basa maka disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri.

Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri), dan titrasi asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hidrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut.

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. reaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekivalen”.

Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran.

2.3. Cara Mengetahui Titik Ekivalen

Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekivalen pada titrasi asam basa, yaitu:

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalen.

2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen teradi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.

2.4. Indikator asam basa

Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indiator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.

Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indiator disebut sebagai titik akhir titrasi (Anonim, 2009). Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan sempurna yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan warna indikator. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah asam lemah atau basa lemah. Asam lemah dan basa lemah ini umumnya senyawa organik yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang mengkontribusi perubahan warna pada indikator tersebut. Jumlah indikator yang ditambahkan kedalam larutan yang akan dititrasi harus sesedikit mungkin, sehingga indikator tidak mempengaruhi pH larutan dengan demikian jumlah titran yang diperlukan untuk terjadi perubahan warna juga seminimal mungkin. Umumnya dua atau tiga tetes larutan indikator 0,1% ( b/v ) diperlukan untuk keperluan titrasi. Dua tetes ( 0,1 ml ) indikator ( 0,1% dengan berat formula 100 ) adalah sama dengan 0,01 ml larutan titran dengan konsentrasi 0,1 M.

Indikator asam basa akan memiliki warna yang berbeda dalam keadaan tak terionisasi dengan keadaan terionisasi. Sebagai contoh untuk indikator phenolphthalein ( pp ) seperti di atas dalam keadaan tidak terionisasi ( dalam larutan asam ) tidak akan berwarna ( colorless ) dan akan berwarna merah keunguan dalam keadaan terionisasi ( dalam larutan basa ).

Warna yang akan teramati pada penentuan titik akhir titrasi adalah warna indikator dalam keadaan transisinya. Untuk indikator phenolphthalein karena indikator ini bertransisi dari tidak berwarna menjadi merah keungguan maka yang teramati untuk titik akhir titrasi adalah warna merah muda. Contoh lain adalah metil merah. Oleh karena metil merah bertransisi dari merah ke kuning, maka bila indikator metil merah dipakai dalam titrasi maka pada titik akhir titrasi warna yang teramati adalah campuran merah dengan kuning yaitu menghasilkan warna orange (Anonim, 2009).

Contoh indikator asam-basa

Nama Indikator Warna asam Warna basa Trayek pH

Alizarin kuning kuning ungu 10,1 -12,0

Fenolftalein tak berwarna merah 8,0 -9,6

Timolftalein tak berwarna biru 9,3 – 10,6

Timolftalein tak berwarna biru 9,3 – 10,6

Fenol merah kuning merah 6,8 -8,4

Bromtimol blue kuning biru 6,0-7,6

Metil merah merah kuning 4,2 -6,2

Metil jingga merah kuning 3,1 -4,4

Para nitrofenol tak berwarna kuning 5,0 -7,0

Timol blue kuning biru 8,0 -9,6

Tropeolin OO merah kuning 1,3 -3,0

2.5. Rumus Umum Titrasi

Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:

mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa

Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:

NxV asam = NxV basa

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:

nxMxV asam = nxVxM basa

keterangan :

N = Normalitas

V = Volume

M = Molaritas

H+ (pada asam) atau OH – (pada basa)

2.6. Berat Eqivalent

BE dalam titrasi asam – basa adalah banyaknya mol suatu zat yang setara dengan ion OH- atau ion H+.

Contoh :

HCl à H+ + Cl-

1mol HCl setara dengan 1mol H+

BE HCl = 1 mol

H2SO4 à 2H+ + SO42-

1mol H2SO4 setara dengan 2 mol H+

½ mol H2SO4 setara dengan 1 mol H+

BE H2SO4 = ½ mol

2.7. Titrasi balik (back-titration)

Terkadang suatu reaksi berlangsung lambat dan tidak dapat diperoleh
titik akhir yang tegas. Untuk itu metoda titrasi balik dapat digunakan untuk
mengatasinya. Caranya dengan menambahkan titran secara berlebih,
setelah reaksi dengan analit berjalan sempurna, kelebihan titran ditentukan
dengan menitrasi dengan larutan standar lainnya. Dengan mengetahui
mmol titran dan menghitung mmol yang tak bereaksi, akan diperoleh mmol
titran yang bereaksi dengan analit.

T (mmol titran yang bereaksi) = mmol titran berlebih – mmol titrasi balik

mg analit = T x faktor (mmol analit/mmol titran yang bereaksi) x BM analit

BAB III

APLIKASI TITRASI ASAM – BASA

3.1. Titrasi Asam Basa: Basa Lemah Vs Asam Kuat

Titrasi basa lemah dan asam kuat adalah analog dengan titrasi asam lemah dengan basa kuat, akan tetapi kurva yang terbentuk adalah cerminan dari kurva titrasi asam lemah vs basa kuat. Sebagai contoh disini adalah titrasi 0,1 M NH4OH 25 mL dengan 0,1 HCl 25 mL dimana reaksinya dapat ditulis sebagai:

NH4OH + HCl à NH4Cl + H2O

Kurva titrasinya dapat ditulis sebagai berikut:

Kurva 1: Kurva titrasi 0,1 M NH4OH dengan 0,1 M HCl

Pada awal titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat NH4OH, karena NH4OH adalah basa lemah maka tidak semua akan terionisasi untuk mencari pH nya maka kita gunakan rumus:

rumusphbasalemah

[OH-] = (10exp-5 x 0,1 )exp1/2 [OH-] = 10-3 M pH = 11

Setelah titrasi berlangsung maka akan terbentuk sistem buffer disebabkan dalam larutan sekarang terdapat NH4OH dan NH4Cl. Pada saat ini kurva titrasi berada pada daerah yang landai dan pH larutan ditentukan oleh pebandingan [NH4Cl]/[NH4OH].

Pada titik tengah titrasi yaitu setengah jumlah mol baik HCl dan NH4OH bereaksi maka [NH4Cl] akan sama dengan [NH4OH] akibatnya pH akan sama dengan pKb (ingat persamaan Henderson-Hasselbalch. Kb NH4OH adalah 10-5.

persamaanHenderson-Hasselbalchasam

pH = pKb = 5

Pada saat titik ekuivalen dicapai maka dalam larutan sekarang hanya terdapat NH4Cl adalah garam dari asam kuat dan basa lemah sehingga dalam larutan akan terhidrolisis parsial dengan reaksi sebagai berikut:

NH4Cl à NH4+ + Cl-

NH4+ + H2O à NH4OH + H+

Dalam larutan sekarang akan bersifat asam disebabkan terdapat H+ dari hidrolisis parsial NH4Cl. pH larutan dapat dihitung dengan persamaan:

rumushidrolisisasamlemah1

[H+] = { (10exp-14/10exp-5) }exp1/2 . 0,05 [H+] = 7.07.10-6 M pH = 5,15

karena pH pada titik ekuivalen titrasi NH4OH dengan HCl jatuh pada kisaran pH 5,15 maka indicator yang memenuhi trayek pH ini adalah metil merah yang memiliki trayek pH 4,4 sampai dengan 6,2 atau juga bisa digunakan metil orange (MO) yang trayek pHnya 3,1 – 4,4.

3.2. Titrasi Asam Basa: Asam Lemah VS Basa Kuat

Asam lemah yang dicontohkan disini adalah asam asetat CH3COOH (biasanya kita singkat menjadi HOAc) dan dititrasi dengan basa kuat NaOH. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut:

HOAc + NaOH à NaOAC + H2O

Dan kurva titrasi antara 0,1 M HOAc 50 mL dengan 0,1 M NaOH 50 mL dapat digambarkan sebagai berikut:

kurvatitrasiasamlemahbasakuat

Kurva 2 : Kurva titrasi 0,1 M CH3COOH dengan 0,1 M NaOH

Pada saat sebelum titrasi dalam Erlenmeyer hanya terdapat asam asetat. HOAc adalah asam lemah sehingga dalam laruta tidak terdisosiasi sempurna, dan untuk mencari konsentrasi H+ nya kita menggunaka rumus pH asam lemah. 0,1 M HOAc dengan volume 50 mL memiliki pH sekitar 3.

pH dihitung dengan rumus:

phasamlemah

Setelah titrasi dijalankan dengan penambahan sedikit demi sedikit NaOH maa dalam larutan akan terbentuk NaOAc sebagai hasil reaksi antara NaOH dan HOAc. Dalam larutan sekarang terdapat HOAc yang belum bereaksi serta NaOAc sehingga terbentuk sistem buffer. pH larutan pun sedikit demi sedikit beranjak naik sebagai fungsi perubahan perbandingan [OAc-]/[HOAc].

Penambahan 10 mL NaOH 0,1 M pada analit HOAc akan merubah pH larutan menjadi 4,3 (hitung pH dengan persamaan Henderson-Hasselbalch).

pH = 5 + log 0,0167/0,067

pH = 4,3

Pada titik tengah titrasi dimana setengah dari jumlah total mol baik NaOH dan HOAc telah bereaksi maka konsentrasi OAc- akan sama dengan konsentrasi HOAc ( [OAC-] = [HOAc] ) sehingga pH nya akan sama dengan pKa yaitu 5.

persamaanHenderson-Hasselbalchasam

pH = 5 + log 0,033/0,33

pH = 5

Pada titik ekuivalen, HOAc habis bereaksi dan sekarang kita mempunyai larutan NaOAc. NaOAc adalah garam yang dibangun dari basa kuat dan asam lemah, sehingga dalam air akan terhidrolisis sebagian dengan reaksi sebagai berikut:

NaOAc à Na+ + OAc-

OAc- + H2O à HOAc + OH-

Adanya OH- sebagai akibat hidrolisis parsial NaOAc akan menyebabkan pH larutan menjadi bersifat basa, sehingga pH pada titik ekuivalen

titrasi asam lemah dan basa kuat adalah basa, dan pHnya ditentukan oleh konsentrasi NaOAc.

rumusphhidrolisisbasa

[OH-] = { (10exp-14/10exp-50 }exp1/2 . 0,05

[OH-] = 7.07.10-6 M

pOH = -log 7.07.10-6 M = 5,15

pH = 14 – 5,15 = 8,85

Jadi pH larutan pada saat titik ekuivalen adalah 8,85. pH ini adalah berada pada trayek pH indicator pp oleh sebab itu titrasi asam asetat dengan NaOH dipakai indicator pp. Jika indicator MO dipakai maka warnanya akan berubah begitu titrasi dimulai dan secara gradual berubah menjadi warna pada kondisi basa pada sekitar pH diatas 6 sebelum titik akhir titrasi di capai. Oleh sebab itulah maka indicator titrasi asam lemah yang diapaki adalah indicator yang memiliki transisi perubahan warna pada kisaran pH 7 sampai 10 dan indicator pp memenuhi kriteria ini.

Dengan penambahan NaOH maka OH- dari hasil hidrolisis NaOAc dapat diabaikan sebab OH- dari NaOH yang akan mendominasi. Oleh sebab itu adanya penambahan NaOH maka pHnya ditentukan oleh konsentrasi OH- dari NaOH dengan demikian pHnya semakin naik ke pH basa.

3.3. Titrasi Asam Basa: Asam Kuat VS Basa Kuat

Titrasi asam basa melibatkan reaksi neutralisasi dimana asam akan bereaksi dengan basa dalam jumlah yang ekuivalen. Titran yang dipakai dalam titrasi asam basa selalu asam kuat atau basa kuat. Titik akhir titrasi mudah diketahui dengan membuat kurva titrasi yaitu plot antara pH larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.

Sebagai contoh titrasi asam kuat dan basa kuat adalah titrasi HCl dengan NaOH. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

HCl + NaOH à NaCl + H2O

H+ + OH- à H2O

Reaksi umum yang terjadi pada titrasi asam basa dapat ditulis sesuai dengan reaksi kedua diatas. Ion H+ bereaksi dengan OH- membentuk H2O sehingga hasil akhir titrasi pada titik ekuivalen pH larutan adalah netral. Kurva titrasi antara 50 mL HCl 0,1 M dengan 50 mL NaOH 0,1 M dapat ditunjukkan dengan gambar berikut ini:

kurvatitrasiasamkuatbasakuat

Kurva 3 : Kurva Titrasi 0,1 M HCl dengan 0,1 M NaOH

Pada awal sebelum titrasi berlangsung maka dalam Erlenmeyer hanya terdapat 0,1 M HCl shingga pH larutan adalah 1. Selanjutnya setelah proses titrasi berlangsung maka pH meningkat sedikit demi sedikit dikarenakan jumlah H+ yang semakin berkurang. Sebagai perbandingan saja jika 90% HCl telah bereaksi dengan NaOH maka konsentrasi H+ dalam larutan berkisar 5,3.10-3 M dan pHnya adalah 2,3, dan secara gradual pHnya akan meningkat sampai pada saat titik ekuivalen diperoleh. Pada titik ekuivalen maka pH larutan adalah sama dengan 7, dalam larutan hanya terdapat NaCl dan H2O.

Penambahan NaOH selanjutnya akan membuat pH semakin meningkat dari konsentrasi 10-7 M untuk OH- hingga bisa mencapai 10-3 M hanya dengan penambahan 5 mL NaOH saja.

Pada kurva titrasi diatas ditunjukkan 2 penggunaan indicator yaitu metil orange (MO) dan fenolthalein (PP). Untuk titrasi HCl dan NaOH diatas maka digunakan indicator pp disebabkan trayek pH indicator pp adalah 8,3 – 10 dimana trayek pH ini adalah dekat dengan pH titik ekuivalen titrasi HCl-NaOH yaitu pada pH 7. Pemilihan indicator yang baik adalah setidak-tidaknya antara -1 pH titik ekuivalen sampai dengan +1 pH titik ekuivalen. Indikator lain yang bisa dipakai adalah Bromothymol blue.

Jika kita pergunakan indicator MO maka titik akhir titrasi akan terjadi terlebih dahulu sebelum titik ekuivalen tercapai. Hal ini tentu saja akan membuat perhitungan analisa kita jauh dari akurat.

Bila yang dipergunakan sebagai titer adalah HCl maka kurva titrasinya adalah kebalikan dari kurva titrasi HCl – NaOH diatas.

3.4. Mencari Trayek pH Indikator untuk Titrasi Asam Basa

Indikator untuk titrasi asam basa memegang peranan yang amat penting disebabkan indicator ini akan menunjukkan kita dimana titik akhir titrasi berlangsung. Pemilihan indicator yang tepat akan sangat membantu dalam keberhasilan titrasi yang akan kita lakukan. Jangan sampai kita salah memilih indicator yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam penentuan titik akhir titrasi.

Untuk memilih indicator yang akan dipakai pada titrasi asam basa maka terlebih dahulu kita harus memperhatikan trayek pH indicator tersebut. Misalkan kita memiliki indicator asam lemah HIn dimana bentuk takterionisasinya berwarna merah sedangkan bentuk terionisasinya berwarna kuning.

HIn ó H+ + In-

Merah Kuning

Perubahan warna HIn terjadi pada kisaran pH tertentu. Perubahan ini tampak bergantung pada kejelihan penglihatan orang yang melakukan titrasi. Untuk warna indicator yang terjadi akibat terbentuknya dari transisi kedua warna (misal HIn berubah dari warna merah ke kuning maka kemungkinan warna transisinya adalah oranye), maka umumnya hanya satu warna yang akan teramati jika perbandingan kedua konsentrasi adalah 10 : 1 jadi hanya warna dengan konsentrasi yang paling tinggi yang akan terlihat.

Sebagai contoh jika hanya warna kuning yang terlihat maka konsentrasi [In-]/[HIn] = 10/1 dan jika kita masukkan ke persamaan Henderson-Hasselbalch diperoleh

pH = pKa + log 10/1 = pKa + 1

dan jika hanya warna merah yang terlihat maka konsentrasi [In]/HIn] = 1/10 sehingga:

pH = pKa + log 1/10 = pKa – 1

Jadi pH indicator akan berubah dari kisaran warna yang satu dengan yang lain adalah berkisar antara pKa-1 sampai dengan pKa + 1, dan pada titik tengah daerah transisi perubahan warna indicator konsentrasi [In-] akan sama dengan [HIn] oleh sebab itu pH = pKa.

Dengan demikian kita dapat memilih suatu indicator dengan cara mimilih indicator yang nilai pKa-nya adalah mendekati nilai pH pada titik ekuivalen atau untuk pH indicator dari basa lemah nilai pKb-nya yang mendekati nilai pH ekuivalen. Contoh indicator pp yang dipakai untuk titrasi asam kuat dan basa kuat atau asam lemah dan basa kuat, indikato metil merah yang dipakai untuk titrasi basa lemah dan asam kuat.

Beberapa contoh indicator dan perubahan warnanya adalah sebagai berikut: (sumber: wikipedia.org).

trayekphindikator

BAB IV

PENUTUP

4.1. Simpulan

Berdasarkan teori-teori yang telah tersebutkan di dalam makalah ini dan apabila pembaca telah membaca makalah ini maka dapat mengetahui bahwa :

Analisis kuantitatif dengan menggunakan metoda volumetri asam – basa sangan banyak digunakan sebagai metoda dalam penelitian dan dunia industri untuk analisis suatu analit yang memiliki sifat asam atu basa.

Titrasi asam basa atau yang lebih dikenal dengan nama asidi – alkalimetri merupakan analisis konvensional, dimana mengunakan larutan yang bersifaat asam maupun basa. Dasar dari analisis ini adalah reaksi yang terjadi dari senyawa yang bersif asam dengan senyawa lain yang bersifat basa.

HA + OH- à A- + H2O

( analit asam, titran basa )

BOH + H3O+ à B+ + 2H2O

( analit basa, titran asam )

Dalam analisis titrimetri asam – basa untuk menunjukkan ketuntasan suatu reaksi maka dapat digunakan pH meter dan larutan indikator yang harus di sesuaikan dengan titik ekivalen yang akan dicapai dari reaksi yang terjadi nantinya.

4.2. Saran

Metoda titrasi asam basa sangan dipengaruhi ole perubahan pH titrasi. Untuk menunjukkan perubahan pH harus lah digunakan indikator yang sensitif terhadap perubah nilai pH selam titrasi berlangsung. Perubahn ini bisa berupa perubahan warna larutan yang dititrasi, perubahan warna ini harus spesifik.

Harus lebih diperhatikan adalah penggunaan indikator yang tepat dari analit yang di uji karena setiap indikator mempuntai trayek perubahan pH yang berbeda.

Dalam analisis volumetri secara keseluruhan kita mengenal isilah larutan standar, yaitu larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara tepat. Ketepatan konsentrasi dari larutan standar sngan mempengaruhi perhitungan dari konsentrasi analit yang diuji nantinya.

Penulis merasa cukup sekian kata penutup yang disampaikan. “tak ada gading yang tak retak”. Dalam laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang dapat membangun perbaikan makalah ini dan sedikit banyaknya saya ucapkan terima kasih.

Guna peyempurnaan makalah ini,saya sangat mengharapkan kritik serta saran dari dosen pembimbing beserta teman-teman.

DAFTAR PUSTAKA

Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Khopkar SM. 1990. Konsep dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Pierce WC, Sawyer DT, Haenisch EL. 1967. Quantitative Analysis. New York : John Wiley and Sons, Inc.

Valcarcel M. 2000. Principles of Analytical Chemistry. New York : Springer.

Watson D G.2009. Analisis Farmasi. Jakarta: EGC

Makalah Penggaraman

Posted: 28 Oktober 2012 in Uncategorized

Kata pengantar

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat,hidayah yang sudah diberikan saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dengan baik dan benar

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang mana semua itu  tejadi karena keterbatasaan pemahaman penulis Seperti kata pepatah “Tiada gading yang Tak Retak”. Kemudian penulis megharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah ini, dan  penulis bisa mengetahui sampai dimana kemampuan penulis.

 

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Jika ada kesalahan tutur kata dalam pembuatan makalah ini mohon dimaklumi karena tidak ada didunia ini yang sempurna selain Allah SWT

Wassallamualaikum Wr.Wb

 

 

 

                                                                                                                                                                                                          Medan, Oktober 2012

                                                                                                                                                                                                          NURHABLI RIDWAN

                                                                                                                                                                                                          NIM : 1209008927

 

 

 

 

 

 

BAB I

Pendahuluan

A. Latar belakang

Asam dan basa merupakan dua senyawa kimia yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Asam dan basa cukup penting bagi kita. Secara umum zat -zat yang termasuk asam mempunyai beberapa ciri yaitu rasanya asam, ph 7 misalnya pada sabun.

Air merupakan elektrolit sangat lemah yang terionisasi menjadi ion h+ dan ion h-. Dalam air, asam melepaskan ion h+ sedangkan basa melepaskan ion oh-. Dalam air asam kuat dan basa kuat terionisasi seluruhnya. Sedangkan asam lemah dan basa lemah hanya terionisasi sebagian. Ph larutan menyatakan konsentrasi h+ dalam larutan. Penetralan asam oleh basa menghasilkan air, menurut bronsted lowry asam merupakan donor proton (h+) dan basa merupakan akseptor proton (oh-).

Di laboratorium asam dan basa secara sederhana dapat dikenali dengan menggunakan berbagai indikator, seperti indikator alami dan indikator buatan. Salah satu indikator yang umum dan sering digunakan yaitu kertas lakmus. Kertas lakmus akan berwarna merak ketika dimasukkan ke larutan yang bersifat asam. Dan saat lakmus dicelupkan ke larutan basa warnanya akan berubah menjadi biru.. Beberapa larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit, sehingga didalam air akan terurai menjadi ion-ionnya. Apakah yang menyebabkan suatu larutan bersifat asam, demikian pula apa penyebab suatu larutan bersifat basa.

B. Tujuan

Adapun tujaun dari pembuatan makalah ini yaitu:

1. sebagai sumber informasi untuk mahasiswa.

2. Agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman khusunya bagi mahasiswa mengenai penggaraman.

C. Rumusan masalah

a. Faktor – faktor yang mempengaruhi penggaraman?

b. Apa yang di maksud dengan penggaraman?

c. Rumus – rumus penggaraman ?

BAB II

Pembahasan

1. Pengertian

Garam adalah senyawa yang dihasilkan dari reaksi netralisasi antara larutan asam dan larutan basa. Larutan garam yang terbentuk memiliki sifat yang bervariasi, tergantung pada sifat asam dan sifat basa penyusun garam. Secara umum :

Asam + basa → garam + air

Berikut ini adalah beberapa contoh reaksi pembentukan garam (dikenal pula dengan istilah reaksi penggaraman atau reaksi netralisasi) :

Hcl(aq) + naoh(aq) → nacl(aq) + h2o(l)

H2so4(aq) + 2 nh4oh(aq) → (nh4)2so4(aq) + 2 h2o(l)

2 hcn(aq) + ba(oh)2(aq) → ba(cn)2(aq) + 2 h2o(l)

H2co3(aq) + mg(oh)2(aq) → mgco3(s) + 2 h2o(l)

Reaksi kebalikan dari reaksi penggaraman dikenal dengan istilah reaksi hidrolisis. Reaksi hidrolisis adalah reaksi salah satu ion atau kedua ion larutan garam dengan air. Reaksi salah satu atau kedua ion larutan garam dengan air menyebabkan perubahan konsentrasi ion h+ maupun ion oh- dalam larutan. Akibatnya, larutan garam dapat bersifat asam, basa, maupun netral.

Sebagaimana yang telah kita pelajari sebelumnya, kita mengenal dua jenis asam, yaitu asam kuat dan asam lemah. Demikian halnya dengan basa, kita mengenal istilah basa kuat dan basa lemah (lihat : kimia asam basa). Dengan demikian, terdapat empat variasi reaksi antara asam dan basa membentuk garam, yaitu :

1. Reaksi antara asam kuat dengan basa kuat

Contoh : hbr(aq) + koh(aq) → kbr(aq) + h2o(l)

Garam yang terbentuk mengalami ionisasi sempurna dalam air

Kbr(aq) → k+(aq) + br-(aq)

Baik kation maupun anion, hanya terhidrasi oleh air, tidak mengalami reaksi dengan air. Dengan demikian, garam tersebut tidak terhidrolisis dalam air. Akibatnya, konsentrasi ion h+ tidak berubah terhadap konsentrasi ion oh-. Larutan garam bersifat netral. Larutan garam tersebut memiliki ph = 7.

2. Reaksi antara asam kuat dengan basa lemah

Contoh : hno3(aq) + nh4oh(aq) → nh4no3(aq) + h2o(l)

Garam yang terbentuk mengalami ionisasi sempurna dalam air

Nh4no3(aq) → nh4+(aq) + no3-(aq)

Anion tidak mengalami hidrolisis dengan air, sebab anion berasal dari spesi asam kuat. Namun sebaliknya, kation yang berasal dari spesi basa lemah mengalami hidrolisis. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Nh4+(aq) + h2o(l) nh4oh(aq) + h+(aq)

Hidrolisis kation yang berasal dari basa lemah menghasilkan ion h+. Akibatnya, konsentrasi ion h+ menjadi lebih tinggi dibandingkan konsentrasi ion oh-. Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis sebagian (parsial). Larutan garam tersebut bersifat asam dan memiliki ph < 7.

3. Reaksi antara asam lemah dengan basa kuat

Contoh : hcn(aq) + naoh(aq) → nacn(aq) + h2o(l)

Garam yang terbentuk mengalami ionisasi sempurna dalam air

Nacn(aq) → na+(aq) + cn-(aq)

Kation tidak mengalami hidrolisis dengan air, sebab kation berasal dari spesi basa kuat. Namun sebaliknya, anion yang berasal dari spesi asam lemah mengalami hidrolisis. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Cn-(aq) + h2o(l) hcn(aq) + oh-(aq)

Hidrolisis anion yang berasal dari asam lemah menghasilkan ion oh-. Akibatnya, konsentrasi ion oh- menjadi lebih tinggi dibandingkan konsentrasi ion h+. Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis sebagian (parsial). Larutan garam tersebut bersifat basa dan memiliki ph > 7.

4. Reaksi antara asam lemah dengan basa lemah

Contoh : hf(aq) + nh4oh(aq) → nh4f(aq) + h2o(l)

Garam yang terbentuk mengalami ionisasi sempurna dalam air

Nh4f(aq) → nh4+(aq) + f-(aq)

Baik kation maupun anion, sama-sama mengalami hidrolisis, sebab keduanya berasal dari spesi lemah. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Nh4+(aq) + h2o(l) nh4oh(aq) + h+(aq)

F-(aq) + h2o(l) hf(aq) + oh-(aq)

Ternyata, hidrolisis kedua ion tersebut menghasilkan ion h+ maupun ion oh-. Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis total (sempurna). Sifat larutan yang dihasilkan bergantung pada perbandingan kekuatan asam lemah (ka) terhadap kekuatan basa lemah (kb).

Ada tiga kemungkinan perbandingan nilai ka terhadap kb :

A. Ka > kb : sifat asam lebih mendominasi; larutan garam bersifat asam; ph larutan garam kurang dari 7

B. Ka = kb : sifat asam maupun basa sama-sama mendominasi; larutan garam bersifat netral; ph larutan garam sama dengan 7

C. Ka < kb : sifat basa lebih mendominasi; larutan garam bersifat basa; ph larutan garam lebih dari 7

Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung ph larutan masing-masing larutan garam adalah sebagai berikut :

1. Larutan garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat

Ph = 7

2. Larutan garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah

[h+] = {(kw/kb)([ion yang terhidrolisis])}1/2

3. Larutan garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat

[oh-] = {(kw /ka)([ion yang terhidrolisis])}1/2

4. Larutan garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah

[h+] = {kw (ka / kb)}1/2

Berikut ini adalah beberapa contoh beserta penyelesaian soal-soal yang berkaitan dengan hidrolisis garam yang baru saja kita pelajarai bersama :

1. Berapakah ph larutan dari 100 ml larutan natrium sianida 0,01 m? (ka hcn = 10-10)

Penyelesaian :

Larutan natrium sianida terbentuk dari campuran basa kuat (naoh) dengan asam lemah (hcn). Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis parsial dan bersifat basa.

Nacn(aq) → na+(aq) + cn-(aq)

Ion yang terhidrolisis adalah ion cn-. Konsentrasi ion cn- adalah 0,01 m. Dengan demikian, ph larutan garam dapat diperoleh melalui persamaan berikut :

[oh-] = {(kw /ka)([ion yang terhidrolisis])}1/2

[oh-] = {(10-14 / 10-10)(0,01)}1/2

[oh-] = 10-3 m

Dengan demikian, poh larutan adalah 3. Jadi, ph larutan garam tersebut adalah 11.

2. Berapakah ph larutan dari 200 ml larutan barium asetat 0,1 m? (ka ch3cooh = 2.10-5)

Penyelesaian :

Larutan barium asetat terbentuk dari campuran basa kuat (ba(oh)2) dengan asam lemah (ch3cooh). Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis parsial dan bersifat basa.

Ba(ch3coo)2(aq) → ba+2(aq) + 2 ch3coo-(aq)

Ion yang terhidrolisis adalah ion ch3coo-. Konsentrasi ion ch3coo- adalah 0,2 m. Dengan demikian, ph larutan garam dapat diperoleh melalui persamaan berikut :

[oh-] = {(kw /ka)([ion yang terhidrolisis])}1/2

[oh-] = {(10-14 / 2.10-5)(0,2)}1/2

[oh-] = 10-5 m

Dengan demikian, poh larutan adalah 5. Jadi, ph larutan garam tersebut adalah 9.

3. Hitunglah ph larutan nh4cl 0,42 m! (kb nh4oh = 1,8.10-5)

Penyelesaian :

Larutan amonium klorida terbentuk dari campuran basa lemah (nh4oh) dengan asam kuat (hcl). Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis parsial dan bersifat asam.

Nh4cl(aq) → nh4+(aq) + cl-(aq)

Ion yang terhidrolisis adalah ion nh4+. Konsentrasi ion nh4+ adalah 0,42 m. Dengan demikian, ph larutan garam dapat diperoleh melalui persamaan berikut :

[h+] = {(kw /kb)([ion yang terhidrolisis])}1/2

[h+] = {(10-14 / 1,8.10-5)(0,42)}1/2

[h+] = 1,53.10-5 m

Dengan demikian, ph larutan garam tersebut adalah 4,82.

Hitunglah ph larutan nh4cn 2,00 m! (ka hcn = 4,9.10-10 dan kb nh4oh = 1,8.10-5)

Penyelesaian :

Larutan amonium sianida terbentuk dari campuran basa lemah (nh4oh) dengan asam lemah (hcn). Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis total.

Nh4cl(aq) → nh4+(aq) + cn-(aq)

Ion yang terhidrolisis adalah ion nh4+ dan ion cn-. Dengan demikian, ph larutan garam dapat diperoleh melalui persamaan berikut :

[h+] = {kw (ka/kb)}1/2

[h+] = {10-14 (4,9.10-10 / 1,8.10-5)}1/2

[h+] = 5,22.10-10 m

Dengan demikian, ph larutan garam tersebut adalah 9,28.

5. Berapakah massa garam nacn yang harus dilarutkan untuk membentuk 250 ml larutan dengan ph sebesar 10? (ka hcn = 10-10 dan mr nacn = 49)

Penyelesaian :

Larutan natrium sianida terbentuk dari campuran basa kuat (naoh) dengan asam lemah (hcn). Dengan demikian, larutan garam tersebut mengalami hidrolisis parsial dan bersifat basa.

Nacn(aq) → na+(aq) + cn-(aq)

Ph = 10, berarti poh = 4

Dengan demikian, [oh-] = 10-4 m

Perhitungan ph larutan garam dapat diperoleh melalui persamaan berikut :

[oh-] = {(kw/ka)([ion yang terhidrolisis])}1/2

10-4 = {(10-14 / 10-10)[ion yang terhidrolisis]}1/2

[ion yang terhidrolisis] = 10-4 m

Konsentrasi garam nacn yang diperlukan sebesar 10-4 m. Volume larutan sebanyak 250 ml = 0,25 l. Dengan demikian, mol garam nacn yang dibutuhkan adalah :

Mol = volume x molar

Mol = 0,25 x 10-4 = 2,5 x 10-5 mol

Jadi, massa garam nacn yang dibutuhkan sebanyak 2,5 x 10-5 x 49 = 1,225 x 10-3 gram = 1,225 mg.

– asam adalah : senyawa yg dapat memberikan proton (donor proton).

dlm hal ini proton adalah ion h+.

– basa adalah : senyawa dapat menerima proton(akseptor proton).

Jadi basa adalah senyawa yg bisa menerima ion h+ , dalam teori ini senyawa yg bersifat basa tdk harus mempunyai oh-.

– teori asam-basa bronsted-lowry dikenal dengan istilah asam-basa terkonyugasi (pasangan asam-basa).

Contoh :

1. hf + h2o f- + h3o+

asam1 basa 2 basa1 asam2

Senyawa bersifat asam : hf dan h3o+ (memberikan h+)

Senyawa bersifat basa : h2o dan f- (menerima h+)

Asam-basa konyugasi :

hf dengan f-

Basa-asam konyugasi :

h2o dengan h3o+

2. nh3 + h2o nh4+ + oh-

basa 2 asam1 asam 2 basa 1

Senyawa bersifat asam : h2o dan nh4+(memberikan h+)

Senyawa bersifat basa : nh3 dan oh- (menerima h+)

Asam-basa konyugasi :

Nh3 dengan nh4+

Senyawa hf dan h2o dapat bersifat asam dan dapat bersifat basa tergantung lawan reaksinya.

Senyawa seperti tersebut diatas menurut bronsted-lowry bersifat amfiprotik, artinya dapat menerima proton dan dapat memberikan proton.

Latihan soal :

♦tentukan senyawa yang bersifat asam dan senyawa yang bersifat basa menurut teori bronsted-lowry.

♦tentukan juga asam-basa konyugasinya.

1. Ch3cooh(aq) + h2o(aq) ch3coo-(aq + h3o+ (aq )

2. Ch3cooh(aq)+h2so4(aq) ch3cooh2+(aq)+hso4(aq) 3. Hcl (aq) + nh3 (aq) cl-(aq) + nh4+(aq)

Teori asam-basa lewis

definisi asam-basa berkaitan dg struktur elektron dlm pembentukan ikatan kovalen antara asam-basa.

asam adalah : spesies yg mampu menerima sepasang elektron untuk membentuk ikatan kovalen.

basa adalah : spesies yg mampu memberikan sepasang elektron untuk membentuk ikatan kovalen.

Contoh :

nh3 + bf3 bf3nh3

nh3 + hcl nh4+ + cl-

Reaksi – reaksi dalam larutan elektrolit (reaksi penggaraman)

Reaksi penggaraman adalah istilah dari reaksi pembentukan garam.

Ada 11 macam tipe-tipe reaksi penggaraman.

1. Asam + basa → garam + air

Contoh :

1. Asam klorida (aq) + natrium hidroksida(aq)

2. Barium hidroksida (aq) + asam nitrat (aq)

3. Asam sulfit (aq) + kalium hidroksida (aq)

2. Oksida basa + asam → garam + air

Contoh :

Kalium oksida (s) + asam fosfat (aq)

Barium oksida (s) + asam sulfat (aq)

Besi (iii) oksida (s) + asam klorida (aq)

3. Oksida asam + basa → garam + air

Contoh :

Belerang trioksida (g) + natrium hidroksida (aq)

Dinitrogen trioksida (g) + besi(iii)hidroksida (aq)

Karbondioksida (g) + kalsium hidroksida (aq)

Rumus Asam

Non logam + o2 → oksida asam

Oksida asam + h2o → asam

Rumus oksida

Rumus asam

Co2

H2co3

Sio2

H2sio3

N2o3

Hno2

N2o5

Hno3

P2o3

h3po3

P2o5

H3po4

As2o3

H3aso3

As2o5

H3aso4

So2

H2so3

So3

H2so4

Cl2o

hclo

Cl2o3

Hclo2

Cl2o5

Hclo3

Cl2o7

hclo4

Br2o

Hbro

Br2o3

hio4

I2o7

Hbro3

Br2o7

hbro4

I2o

Hio

I2o3

Hio2

I2o5

Hio3

Br2o5

Hbro3

*catatan:

*1. Tdk semua asam mempunyai oksida asam, contoh : hf,hcl,hbr dst.

*2. Ada pula asam yg mengandung oksigen tetapi tdk mempunyai oksida, yaitu asam2 organik.

contoh ; ch3cooh, hcooh dst.

Rumus oksida :

Cu2o

Cuo

Hg2o

Hgo

Feo

Fe2o3

*catatan :

tdk semua basa berasal dari oksida contohnya, nh4oh yg berasa dari nh3 + h2o

Oksida amfoter

Yaitu oksida yg jika bereaksi dg asam membentuk basa.

Jika bereaksi dg basa membentuk asam.

Contoh, grasindo hal 38

Oksida asam nama asam basa nama basa

Mno3 h2mno4 as.manganat

4. Amonia + asam garam amonium

Contoh :

Amonia (g) + asam klorida (aq)

Amonia (g) + asam sulfat (aq)

Amonia (g) + asam nitrat (aq)

5. Asam kuat(encer) + garam karbonat

garam + air + co2(g)

Contoh :

1. Asam klorida (aq) + kalsium karbonat (s)

Asam nitrat (aq) + magnesium karbonat (s)

Asam sulfat (aq) + natrium karbonat (s)

6. Garam sulfida + asam kuat (encer)

garam + h2s (g)

Contoh :

Besi (ii) sulfida (s) + asam klorida (aq)

Natrium sulfida (s) + asam nitrat (aq)

Magnesium sulfida (s) + asam sulfat (aq)

7. Garam 1 + garam 2 garam 3 + garam 4

Syarat : garam 3 dan (atau) garam 4 sukar larut dalam

air.

Contoh :

1. Timbal(ii)nitrat + kalium yodida

2. Tembaga(i)sulfida + natrium klorida

Perak nitrat + kalium bromida

Kelarutan basa dan garam dalam air

No senyawa umumnya kecuali

Hidroksida sukar larut semua basa gol ia,

oh- (basa) ca(oh)2,sr(oh)2,ba(oh)2

2. Nitrat(no3-) mudah larut –

Asetat mudah larut –

(ch3coo-)

4. Klorida(cl-) mudah larut agcl,hg2cl2,pbcl2,cucl

5. Bromida(br-) mudah larut agbr,hg2br2,pbbr2 ,cubr

6. Iodida(i-) mudah larut agi,hg2i2,hgi2pbi2,cui

7. Sulfat(so42- ) mudah larut baso4,srso4,pbso4

8. Karbonat sukar larut na2co3,k2co3,(nh4)2co3

9. Klorat(clo4-) mudah larut –

10.fosfat(po43-) sukar larut na3po4,k3po4,(nh4)3po4

11. Sulfida(s2-) sukar larut gol ia, gol iia(kec.be)

(nh4)2s

12.natrium,kalium, mudah larut –

amonium

13. Pbcl2,pbbr2,pbi2 mudah larut –

dalam air panas

8. Garam 1 + basa 1 garam 2 + basa 2

Syarat : garam 2 dan (atau) basa 2 sukar larut dalam

air.

Contoh : 1. Kalium yodida + magnesium hidroksida

2. Natrium karbonat + besi (iii) hidroksida

3. Magnesium yodida + perak hidroksida

9. Garam 1 + asam 1 garam 2 + asam 2

Syarat : garam 2 sukar larut dan(atau) asam 2 adalah asam hipotesis.

Contoh : 1. Perak nitrat + asam klorida

2. Kalsium bromida + asam fosfat

3. Barium yodida + asam sulfat

0.logam + asam kuat (encer) garam + h2 (g)

Syarat : logam hrs mempunyai potensial reduksi negatif

atau disebelah kiri h dalam deret volta(kecuali

cu, hg, ag, pt dan au)

Deret volta:

Li-k-ba-ca-na-mg-al-mn-zn-cr-fe-ni-sn-pb-(h)-cu-hg-ag-pt-au

Contoh : 1. Zincum + asam nitrat (encer)

2. Aluminium + asam sulfat (encer)

3. Magnesium + asam klorida (encer)

4. Tembaga + asam oksalat

Perak + asam zinkat

11. Logam 1 + garam 1 logam 2 + garam 2

Syarat : logam 1 harus lebih reaktif (terletak disebelah

kiri) dibanding logam yg tdp.pada garam 1.

Deret volta:

Li-k-ba-ca-na-mg-al-mn-zn-cr-fe-ni-sn-pb-(h)-cu-hg-ag-pt-au

Contoh :

1. Zn (s) + tembaga(ii) sulfat

2. Kalsium(s) + besi(ii)fosfat

3. Magnesium(s) + barium karbonat

4. Besi (s) + kalium bromida

5. Mangan (s) + nikel(ii)sulfat

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan

berdasarkan teori-teori yang telah tersebutkan di dalam makalah ini dan apabila pembaca telah membaca makalah ini maka dapat mengetahui bahwa :
1.penambahan sedikit asam atau sedikit basa atau pengenceran ke dalam larutan penyangga tidak mengubah ph larutan itu.

2.hasil pengamatan dan perbedaan perubahan ph larutan penyangga dan bukan penyangga akibat penambahan sedikit asam atau basa atau pengenceran.
3.beberapa jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air.

4.cara menentukan ph dan poh suatu larutan penyangga.

B. Kritik & saran

hendaknya kalian jangan menyentuh asam yang terdapat di laboratorium terutama asam sulfat (h2so4) dan asam klorida (hcl) karena kedua asam tersebut jika terkena pada kulit, maka kulit kita akan melepuh dan akan mengakibatkan gatal-gatal.

Perlu anda ketahui bahwasanya larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit sehingga di dalam air akan terurai menjadi ion-ion.
Demikian laporan ini saya susun. Dan penulis mengucapkan banyak terima kasih atas pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga penulis dapat menyelesaikannya.

Penulis merasa cukup sekian kata penutup yang disampaikan. “tak ada gading yang tak retak”. Dalam laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan kritik yang dapat membangun perbaikan makalah ini dan sedikit banyaknya saya ucapkan terima kasih.

Guna peyempurnaan makalah ini,saya sangat mengharapkan kritik serta saran dari dosen pembimbing beserta teman-teman kelompok lain.

Daftar pustaka

Andy. 2009. Pre-college chemistry.

Chang, raymond. 2007. Chemistry ninth edition. New york: mc graw hill.

Dreisbach,Dale,1966,Liauids and Solution,Houghton Mifflin CO,Boston

Moore, john t. 2003. Kimia for dummies. Indonesia: pakar raya.

Sutresna, nana. 2003. Pintar kimia jilid 3 untuk smu kelas 3. Jakarta : ganeca exact.

Teknologi Pertanian

Posted: 17 September 2012 in Uncategorized

GambarTeknologi Pertanian adalah merupakan penerapan dari ilmu-ilmu terapan dan teknik pada kegiatan pertanian.

Daftar isi

Definisi ilmiah

Teknologi pertanian merupakan penerapan prinsip-prinsip matematika dan ilmu pengetahuan alam dalam rangka pendayagunaan secara ekonomis sumberdaya pertanian dan sumberdaya alam untuk kesejahteraan manusia [1].

Falsafahnya teknologi pertanian merupakan praktik-empirik yang bersifat pragmatik finalistik, dilandasi paham mekanistik-vitalistik dengan penekanan pada objek formal kerekayasaan dalam pembuatan dan penerapan peralatan, bangunan, lingkungan, sistem produksi serta pengolahan dan pengamanan hasil produksi[2]. Objek formal dalam ilmu pertanian budidaya reproduksi berada dalam fokus budidaya, pemeliharaan, pemungutan hasil dari flora dan fauna, peningkatan mutu hasil panen yang diperoleh, penanganan, pengolahan dan pengamanan serta pemasaran hasil[1]. Oleh sebab itu, secara luas cakupan teknologi pertanian meliputi berbagai penerapan ilmu teknik pada cakupan objek formal dari budidaya sampai pemasaran.

Sejarah Pendidikan Teknologi Pertanian

Bidang teknologi pertanian secara keilmuan merupakan hibrida dari ilmu teknik dan ilmu pertanian.[rujukan?] Sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian dipicu oleh kebutuhan untuk pemenuhan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian secara luas di Amerika Serikat maupun eropa pada pertengahan abad ke-18.[rujukan?] Perkembangan pendidikan tinggi teknologi pertanian di Indonesia yang dimulai awal tahun 1960-an tidak terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda yang memang secara historis meletakkan dasarnya di Indonesia.[rujukan?] Perang dunia I yang terjadi di Eropa telah menyebabkan gangguan hubungan internasional antara lain, armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia sehingga tenaga-tenaga ahli yang sebelumnya banyak didatangkan dari Eropa mengalami kesulitan.[rujukan?] Pencetakan tenaga ahli teknik menengah dan tinggi (baik untuk bidang teknik dan pertanian) menjadi kebutuhan oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu pendudukan di Indonesia.[rujukan?] Untuk mencukupi kebutuhan tenaga terampil bidang pertanian, peternakan dan perkebunan yang secara intensif dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Jawa dan Sumatra dalam program cultur stelseels pada awal abad ke-19.[rujukan?] Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, maka di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa lembaga pendidikan menengah untuk bidang pertanian dan kedokteran hewan, yakni Middlebare Landbouw Schooll, Middlebare Bosbouw Schooll dan Nederlandssch Indische Veerleeen Schooll[1].

Lingkup Teknologi Pertanian

Teknik Pertanian

Teknik pertanian merupakan pendekatan teknik (engineering) secara luas dalam bidang pertanian yang sangat dibutuhkan untuk melakukan transformasi sumberdaya alam secara efisien dan efektif untuk pemanfaatannya oleh manusia.[rujukan?] Dengan demikian dalam sistematika keilmuan, bidang teknik pertanian tetap bertumpu pada bidang ilmu teknik untuk memcahkan berbagai permasalahan di bidang pertanian. [3]. Terminologi teknik pertanian sebagai padanan Agricultural Engineering diperkenalkan di Indonesia pada paruh 1990-an.[rujukan?] Sebelumnya terminologi yang digunakan lebih sempit, yaitu mekanisasi pertanian yang diadopsi dari Agricultural Mechanization, sejak awal 1990-an bersamaan dengan pengenalan dan penggunaan traktor untuk program intensifikasi pertanian.[rujukan?]

Bidang cakupan teknik pertanian antara lain adalah sebagai berikut :[rujukan?]Alat dan mesin budidaya pertanian, mempelajari penggunaan, pemeliharaan dan pengembangan alat dan mesin budidaya pertanian. Teknik tanah dan air, menelaah persoalan yang berhubungan dengan irigasi, pengawetan dan pelestarian sumberdaya tanah dan air. Energi dan Elektrifikasi Pertanian, mencakup prinsip-prinsip teknologi energi dan daya serta penerapannya dalam kegiatan pertanian. Lingkugan dan bangunan pertanian, mencakup masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan konstruksi bangunan khusus untuk keperluan pertanian, termasuk unit penyimpanan tanaman dan peralatan, pusat pengolahan dan sistem pengendalian iklim serta sesuai keadaan lingkungan. Teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, penggunaan mesin untuk menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan atau digunakan sebagai bahan pangan atau penggunan lainnya.

Perkembangan ilmu sistem pada tahun 1980-an memberikan imbas pada bidang teknik pertanian, dengan berkembangnya ranah sistem dan manajemen mekanisasi pertanian, yang merupakan penerapan manajamen dan analisis sistem untuk penerapan mekanisasi pertanian.[rujukan?] Perkembangan berikutnya, pada abad ke-20 menuju abad ke-21 berkaitan denga ilmu komputasi, teknologi pembantu otak dan otot lewat sistem kontrol, sistem pakar, kecerdasan buatan berupa penerapan robot pada sistem pertanian, menjadikan teknik pertanian berkembang menjadi sistem teknik pertanian (Agricultural System Engineering).[rujukan?] Objek formal yang berupa kegiatan reproduksi flora dan fauna serta biota akuatik didekati lebih luas lagi sebagai sistem hayati/biologis dengan orientasi pemecahan masalah pertanian secara holistik.[rujukan?] Dalam pendekatan ini sumberdaya hayati berupa mikroba/mikroorganisme turut dijadikan objek formal dalam produksi dan peningkatan biomassa.[rujukan?] Di beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Jepang, program studi atau departemen yang dulu bernama Teknik Pertanian, kini berganti dengan nama Teknik Sistem Biologis (Biological System Engineering)[1].

Teknologi Hasil Pertanian/ Teknologi Pangan

Bahan pangan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, sangat intensif dijadikan kajian sebagai objek formal ilmu terapan dan ditopang dengan tuntutan industri, terutama di negara maju. Kondisi ini melahirkan cabang bidang ilmu teknologi pangan yang merupakan penerapan ilmu-ilmu dasar (kimia, fisika dan mikrobiologi) serta prinsip-prinsip teknik (engineering), ekonomi dan manajemen pada seluruh mata rantai penggarapan bahan pangan dari sejak pemanenan sampai menjadi hidangan[4]. Teknologi pangan merupakan penerapan ilmu dan teknik pada penelitian, produksi, pengolahan, distribusi, penyimpanan pangan berikut pemanfaatannya[5]. Ilmu terapan yang menjadi landasan pengembangan teknologi pangan meliputi ilmu pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan, fisika pangan dan teknik proses.[rujukan?] Ilmu pangan merupakan penerapan dasar-dasar biologi, kimia, fisika dan teknik dalam mempelajari sifat-sifat bahan pangan, penyebab kerusakan pangan dan prinsip-prinsip yang mendasari pegolahan pangan.[rujukan?]

Teknologi Industri Pertanian

Teknologi Industri Pertanian didefinisikan sebagai disiplin ilmu terapan yang menitikberatkan pada perencanaan, perancangan, pengembangan, evaluasi suatu sistem terpadu (meliputi manusia, bahan, informasi, peralatan dan energi) pada kegiatan agroindustri untuk mencapai kinerja (efisiensi dan efektivitas) yang optimal[1]. Disiplin ini menerapkan matematika, fisika, kimia/biokimia, ilmu-ilmu sosial ekonomi, prinsip-prinsip dan metodologi dalam menganalisis dan merancang agar mampu memperkirakan dan mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sistem terpadu agroindustri.[rujukan?] Sebagai paduan dari dua disiplin, teknik proses dan teknik industri dengan objek formalnya adalah pendayagunaan hasil pertanian[6].

Teknologi Industri Pertanian memiliki bidang kajian sebagai berikut :[rujukan?]

  1. Sistem teknologi proses industri pertanian, kegiatan pertanian yang berkaitan dengan perencanaan, instalasi dan perbaikan suatu sistem terpadu yang terdiri atas bahan, sumberdaya, peraltan dan energi pada pabrik agroindustri.
  2. Manajemen industri, kajian yang berkaitan dengan perencanaan, pengoperasian dan perbaikan suatu sistem terpadu pada permasalahan sistem usaha agroindustri.
  3. Teknoekonomi agroindustri, kajian yang berkaitan dengan perencanaan, analisis dan perumusan kebijakan suatu sistem terpadu pada permasalahan sektor agroindustri.
  4. Manajemen mutu, penerapan prinsip-prinsip manajemen (perencanaan, penerapan dan perbaikan) pada bahan (dasar, baku), sistem proses, produk, dan lingkungan untuk mencapai taraf mutu yang ditetapkan.

Kegiatan hilir dari pertanian berupa penanganan, pengolahan, distribusi dan pemasaran yang semula secara sederhana dan tercakup dalam teknologi hasil pertanian, berkembang menjadi lebih luas dengan pendekatan dari sistem Industri.[rujukan?]

Rujukan

  1. ^ a b c d e [Mangunwidjaja, D. dan Sailah, I. 2009. Pengantar Teknologi Pertanian. Penebar Swadaya. Bogor.]
  2. ^ Soeprodjo. 1994. Pengembangan Bidang Ilmu dalam Disiplin Teknologi Pertanian. Konsorsium Ilmu-Ilmu Pertanian, Direktorat Jendral Perguruan Tinggi, Depdikbud. Jakarta.
  3. ^ [Anonim. 2006. Panduan Program Sarjana Mayor Teknik Pertanian. Departemen Teknik Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.]
  4. ^ [Anonim. 2003. Kurikulum Program Studi Sarjana Teknologi Pangan. Departemen Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor]
  5. ^ [Livingstone, GE and Solberg, M. 1978. Food Science. In DN Lapedes (ed) Mc Graw Hill Encyclopedia of Food, Agriculture and Nutrition. McGraw Hill Book, Co. New Jersy.]
  6. ^ [Anonim. 1998. Pengembangan Agroindustri Bernilai Tambah. Simposium Nasional Agroindustri III, Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.]

 

PERTANIAN

Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam dan memelihara ternak merupakan kebudayaan manusia paling tua. Tetapi dibandingkan dengan sejarah keberadaan manusia, kegiatan bertani ini termasuk masih baru. Sebelumnya, manusia hanya berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi.  

Sampingan  —  Posted: 17 September 2012 in Uncategorized

Hello world!

Posted: 17 September 2012 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!